TAMAKO, SatuUntukSemua.id — Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Tamako bersama Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali menguatkan pembinaan kepribadian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui kegiatan kerohanian, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan yang digelar di lingkungan Lapas Tamako ini menyasar pembentukan karakter WBP agar memiliki iman, takwa, serta kesadaran untuk memperbaiki diri selama menjalani masa pidana.
Kepala Lapas Kelas III Tamako, Torkis Freddy Siregar, menyampaikan apresiasi kepada Kemenag Sangihe atas dukungan berkelanjutan dalam program pembinaan. Ia menilai kehadiran penyuluh agama memberi dampak positif bagi mental dan spiritual warga binaan.
“Kehadiran Penyuluh Agama dari Kemenag menumbuhkan harapan, menguatkan hati, dan memberikan semangat baru bagi Warga Binaan untuk terus memperbaiki diri. Semoga kolaborasi yang baik ini terus terjaga dan semakin memberikan manfaat bagi proses pembinaan di Lapas Tamako,” ujar Torkis.
Pembinaan kerohanian dilaksanakan sesuai keyakinan masing-masing.
Untuk WBP Muslim, ceramah agama digelar di musala dan disampaikan Ustaz Ahadiyat A. Soleman. Dalam tausiahnya, ia mengajak warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai momentum introspeksi.
“Manfaatkan waktu ini untuk memperbanyak akhlak mulia, bertobat, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat,” pesan Ustaz Ahadiyat.
Sementara WBP Kristen mengikuti ibadah dan pendalaman firman di Gedung Ibadah Oikumene yang dipimpin Pdt. Boyke S. Dehoop. Mengangkat Yeremia 17:7, Pdt. Boyke mengajak warga binaan menaruh pengharapan penuh kepada Tuhan.
“Jadikan masa pembinaan ini sebagai awal kehidupan baru. Tetap percaya, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang berharap kepada-Nya,” ucap Pdt. Boyke.
Melalui kegiatan rutin ini, Lapas Kelas III Tamako menargetkan terbentuknya warga binaan yang berkarakter, memiliki landasan spiritual kuat, dan siap berintegrasi kembali dengan keluarga serta masyarakat setelah bebas.
Sinergi dengan Kemenag Sangihe diharapkan terus berlanjut sebagai bagian dari pembinaan kepribadian yang berkelanjutan di Lapas Tamako. (***)






