Manado, SatuUntukSemua.id – Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional serta mewujudkan pembinaan warga binaan yang produktif, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Manado melaksanakan kegiatan panen daun bawang yang dibudidayakan di area pertanian dalam lingkungan lapas.
Kegiatan panen ini merupakan output dari program pembinaan kemandirian berbasis pertanian hortikultura. Secara konseptual, program tersebut berfungsi ganda, sebagai sarana peningkatan keterampilan vokasional bagi warga binaan, sekaligus sebagai kontribusi langsung dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan di internal Lapas dan penguatan ketahanan pangan lokal.
Selain berorientasi pada aspek ekonomi, pendekatan pertanian ini juga menjadi instrumen pembinaan karakter. Warga binaan dilatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan etos kerja melalui proses perawatan tanaman yang dilakukan secara rutin.
Kepala Lapas Kelas IIA Manado, Krisman Siliwu menyampaikan, bahwa keberhasilan panen daun bawang merupakan bukti nyata komitmen institusi dalam mengoptimalkan lahan terbatas menjadi ruang produktif.
“Program pertanian ini tidak hanya menghasilkan produk yang bermanfaat, tetapi juga menjadi media pembinaan bagi warga binaan agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat. Kami terus berkomitmen mendukung program ketahanan pangan melalui berbagai kegiatan pembinaan yang produktif,” ujar Kepala Lapas Kelas II Manado, Krisman Siliwu, Rabu (01/07/2026).
Daun bawang yang dipanen memiliki kualitas baik berkat perawatan intensif oleh warga binaan di bawah supervisi petugas. Keberhasilan ini menjadi dasar untuk ekspansi komoditas pertanian lain ke depan sebagai bagian dari penguatan program kemandirian.
Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIA Manado menegaskan perannya sebagai institusi pemasyarakatan yang tidak hanya fokus pada pembinaan, tetapi juga pada pemberdayaan.
Dengan terus mengembangkan program produktif, diharapkan lahir warga binaan yang mandiri, memiliki bekal keterampilan, dan siap kembali berperan positif di masyarakat. Hal ini sekaligus sejalan dengan program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di bidang ketahanan pangan. (***)






