Minsel, SatuUntukSemua.id – Tahapan politik desa segera memasuki babak penentuan. Proses Pemilihan Kepala Desa Sapa Timur secara Pengganti Antar Waktu (PAW) dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Momen ini menjadi celah strategis untuk menghadirkan kepemimpinan baru yang bertumpu pada kompetensi, integritas, dan kedekatan kultural dengan warga.
Dua nama putra kelahiran Desa Sapa mengemuka sebagai figur dominan. Konfigurasi kandidat menampilkan dua basis keahlian berbeda: Sudirman Damopolii, jurnalis senior yang lama berkarya di Ternate, Maluku Utara, berhadapan dengan Budianto Abdul atau Budi, eks Ketua BPD Sapa yang menguasai mekanisme kelembagaan desa.
Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, desa menempati posisi fundamental sebagai ujung tombak pelayanan publik. Literatur pembangunan menegaskan bahwa kualitas tata kelola desa sangat bergantung pada kapabilitas pemimpinnya dalam menerjemahkan kebutuhan masyarakat menjadi program nyata.
Pilkades PAW di Sapa Timur melampaui dimensi pergantian personal. Agenda ini menjadi tolok ukur kedewasaan demokrasi warga. Munculnya dua kandidat muda berlatar pendidikan dan berakar lokal menandakan kemajuan proses politik di tingkat desa. Sudirman mengandalkan jejaring jurnalistik dan kemampuan membaca isu publik, sementara Budianto bertumpu pada pengalaman administratif selama memimpin BPD.
Kemunculan dua calon muda dalam Pemilihan Antar Waktu PAW Sapa Timur, dinilai menepis stigma bahwa anak desa minim akses ke pucuk kepemimpinan. Bila terpilih, gaya kepemimpinan mereka diprediksi mengakhiri pola stagnasi lama dan mendorong pemerintahan desa yang terbuka, responsif, serta adaptif terhadap dinamika pembangunan kekinian.
Tokoh masyarakat Desa Sapa, Arfan Basuki, menyebut momentum PAW ini sebagai titik balik penting bagi Sapa Timur. Ia menilai dua kandidat yang maju merupakan kader terbaik desa dengan usia produktif, wawasan luas, dan pemahaman kuat terhadap kondisi lapangan.
“Sudir unggul dalam komunikasi publik, Budi kuat di ranah regulasi desa,” ujar Arfan Basuki yang juga mantan Kepala Dinas di Pemprov Sulut.
Dengan pengalaman bertahun-tahun di pemerintahan, Arfan menegaskan generasi muda harus diberi mandat memimpin. Menurutnya, di bawah kendali mereka, Sapa Timur berpeluang melaju lebih progresif.
“Pemilih perlu menilai berdasarkan gagasan dan rekam jejak, bukan ikatan primordial,” tegasnya.
Pemilihan PAW Sapa Timur juga dipandang sebagai ruang uji demokrasi partisipatif di level mikro. Ketika ruang kepemimpinan diserahkan ke generasi muda, desa tidak lagi sekadar penerima program, tapi menjadi aktor yang merancang masa depannya sendiri.
Dengan dipimpin putra terbaiknya, Sapa Timur berpeluang besar beranjak menuju desa yang mandiri, maju, dan kompetitif. (***)






