Minsel, SatuUntukSemua.id – Perbedaan pola aktivisme antargenerasi mahasiswa kembali mencuat ke ruang publik. Roby Sangkoy, yang akrab disapa Rosa, Anggota DPRD Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), menyampaikan kritik akademis terhadap aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung kemarin. Kritik tersebut menyoroti kontras antara orientasi mahasiswa era 1980-an dengan mahasiswa era 2000-an.
Dalam keterangannya, politisi partai Golkar ini, menarasikan pengalaman pribadinya sebagai mahasiswa IKIP Manado angkatan 1983. Ia mencatat rekam jejak organisasi intra kampus yang dijalaninya selama 1984–1987, meliputi:
1. Wakil Ketua HIMAJU Civic Hukum
2. Wakil Ketua Senat FPIPS
3. Anggota BPM IKIP Manado
Rosa menekankan bahwa latar belakang ekonomi keluarga sebagai petani penggarap menjadi determinan utama dalam menentukan prioritas akademiknya.
“Mengingat orang tua (Papa) sebagai petani penggarap susah cari biaya kuliah, maka fokus saya di Kegiatan dalam kampus (belajar dan belajar) agar tidam mengecewakan orang tua,” ujarnya. Komitmen tersebut berbuah kelulusan S1 pada tahun 1987.
Pasca kelulusan, Rosa melanjutkan pengabdian melalui organisasi kepemudaan. Tahun 1994 ia terpilih sebagai Ketua Karang Taruna Teladan Tingkat Provinsi Sulawesi Utara, yang mengantarkannya mengikuti Upacara Kenegaraan 17 Agustus 1994 di Istana Negara.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Rosa mengajukan tesis kritiknya: aktivisme mahasiswa era sekarang cenderung ekspresif melalui kritik terbuka terhadap pemerintah. Namun ia mempertanyakan substansi kontribusi pada tataran mikro.
“Era sekarang banyak Mahasiswa teriak / kritik pemerintah tapi apakah di lingkungan kecil Desa/Kelurahan mereka pernah punya preatasi yang dibagkan???,” tegasnya.
Menurutnya, perbedaan mendasar terletak pada orientasi nilai: mahasiswa 80-an memprioritaskan capaian akademik dan prestasi konkrit sebelum bersuara, sementara mahasiswa 2000-an lebih cepat merespons isu publik melalui demonstrasi.
“Mahasiswa era saat Ini rupanya berbeda,” pungkas Rosa.
Pernyataan Rosa membuka diskursus akademis tentang evolusi peran mahasiswa dalam sistem sosial. Jika mahasiswa 80-an dihadapkan pada keterbatasan ekonomi sehingga menjadikan kelulusan dan prestasi institusional sebagai legitimasi moral, maka mahasiswa kontemporer dihadapkan pada kompleksitas isu struktural dan kemudahan akses informasi yang mendorong advokasi lebih dini.
Perdebatan ini menegaskan bahwa tidak ada format tunggal dalam memaknai “mahasiswa ideal”. Yang tetap relevan adalah keseimbangan antara kapasitas intelektual, integritas personal, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, baik di ranah makro maupun mikro seperti desa/kelurahan. (***)






