Minsel, SatuUntukSemua.id – Konstelasi politik jelang Pergantian Antar Waktu (PAW) Hukum Tua Desa Sapa Timur, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan menarik untuk diikuti. Setelah sempat tertunda karena hanya diikuti satu bakal calon, kini panitia pemilihan kepala desa yang diketuai Yusri Bahuwa kembali memperpanjang durasi pendaftarannya selama 10 hari masa kerja.
Menariknya, dari sejumlah nama bakal calon hukum tua, muncul salah satu anak muda potensial asal Sapa Timur yang berkiprah di Kota Ternate, Maluku Utara sebagai pewarta sukses. Talenta dan kepiawaiannya sebagai jurnalistik tidak diragukan lagi. adalah Sudirman Damopolii. Pewarta senior, kelahiran 29 September 1982 kembali ke kampung halamannya demi menjawab panggilan masyarakat.
Suda, akronim Sudirman Damopolii mengaku siap menghibahkan talenta kejurnalistikannya untuk kemajuan Desa Sapa Timur. Semula dirinya tidak ingin melibatkan diri untuk ikut dalam kontestasi pesta demokrasi. Hanya karena tanggungjawab moral dan rasa keperihatinannya terhadap negeri leluhurnya, maka Tole, sapaan akrab Sudirman Damopolii pun turun gunung demi mewujudkan perubahan total.
“Beberapa kali pergantian kepemimpinan, namun Sapa Timur tidak ada kemajuan. Kantor desa saja pun nampak tak terurus. jika hal kecil ini saja tidak diperhatikan, bagaimana kita akan membahas hal besarnya masyarakat. Sebelum halaman orang lain dibersihkan, terlebih dahulu kita rapihkan halamab sendiri. pemimpin itu kongkrit, bukan retorika kosong demi meraih simpati,” ungkap Enga, panggilan akrab Sang Pewarta senior.
Menurut Sudir, menjadi pemimpin di Sapa Timur butuh kerja sama masyarakat. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemimpin yang terpilih nanti. Mulai dati air bersih, tapal batas, lahan pekuburan, wajah desa dan program masyarakat lainnya. Distribusi bantuan sosial tidak boleh tebang pilih. Selain itu, jembatan penghubung juga harus disegerakan demi memperlancar aktivitas peetanian dan ekonomi masyarakat.
“Saya datang demi kemajuan Sapa Timur yang kita cintai. semoga kehadiran saya adalah jawaban dari keperihatinan masyarakat. Saya datang untuk mengabdi, bukan untuk berkuasa apalagi ingin menguasai yang bukan hak kami,” pungkas Sudir.
Kapasitas Sudir sebagai wartawan senior diyakini memberi warna berbeda. Cara kerja “cek dan ricek”, dokumentasi terbuka, serta komunikasi yang mudah dipahami warga disebutnya akan jadi standar kerja sehari-hari di kantor desa.
Tahapan PAW selanjutnya akan berjalan sesuai aturan Kecamatan Tenga dan Pemkab Minsel. Warga Sapa Timur kini menunggu, siapa yang paling siap menjawab kebutuhan desa di periode transisi ini. (***)






