MINSEL, SatuUntukSemua.id – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Amurang terus berinovasi dalam program pembinaan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Melalui program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Ketahanan Pangan, Lapas Amurang kini mengembangkan budidaya ayam petelur sebagai bekal keterampilan produktif bagi WBP, Jumat (25/9).
Program ini tidak sekadar beternak, melainkan menjadi wadah edukasi langsung bagi WBP untuk terlibat dalam seluruh siklus peternakan. Mulai dari pemberian pakan dan minum, menjaga kebersihan kandang, memantau kesehatan ayam, hingga proses pengumpulan dan penanganan hasil telur, semua dikerjakan secara mandiri oleh WBP di bawah bimbingan petugas.
Kepala Lapas Kelas III Amurang, Eduard Kaligis mengatakan, program ini dirancang untuk memberikan bekal hidup yang nyata setelah WBP kembali ke masyarakat.
“Kami ingin pembinaan di dalam Lapas ini memiliki nilai guna. Melalui budidaya ayam petelur ini, kami tidak hanya mengajarkan cara beternak, tapi juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama tim, dan etos kerja yang teratur. Ini adalah keterampilan praktis yang bisa langsung mereka kembangkan menjadi usaha mandiri saat bebas nanti,” ujar Kalapas Amurang.
Ia menambahkan, selain aspek pembinaan kemandirian, program ini juga selaras dengan program nasional ketahanan pangan pemerintah.
“Lahan yang ada di Lapas kami manfaatkan secara produktif. Hasil telur dari program ini tidak hanya bernilai ekonomi dan membantu kebutuhan internal Lapas, tetapi juga menjadi bukti bahwa Lapas turut berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan. Ini adalah pembinaan yang berkelanjutan dan berorientasi masa depan,” tambahnya.
Dengan adanya program SAE budidaya ayam petelur ini, Lapas Kelas III Amurang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembinaan yang edukatif, produktif, dan humanis, sebagai bagian penting dari proses pemasyarakatan dan persiapan reintegrasi sosial WBP agar siap kembali menjadi pribadi yang mandiri dan diterima di tengah masyarakat. (***)






