“Sebuah kajian yang berusaha disederhanakan agar pembaca lebih mudah memahami”
Apa Itu Materialisme?
Secara harfiah Materialisme berarti paham berpegang pada benda / zat / kenyataan fisik sebagai hal yang utama.
Kata Materia dalam bahasa Latin mula-mula berarti “kayu sebagai bahan bangunan” disitulah asal muasal dari Materialisme, dan lawan kata dari forma (bentuk, susunan, gagasan).
Dari makna itu berkembang menjadi, segala sesuatu yang membentuk isi dunia, zat yang dapat ditangkap indra, kenyataan yang ada terlepas dari pikiran kita.
Jadi secara asal-usul kata, Materialisme bermakna, Segala sesuatu yang ada, pada hakikatnya adalah “bahan” antara lain, zat, materi, kenyataan fisik.
Materi ada lebih dulu, tidak diciptakan, tidak bergantung pada pikiran.
Sebaliknya, pikiran, kesadaran, dan gagasan adalah hasil dari materi yang berkembang.
Jadi secara etimologis, Materialisme adalah paham yang menyatakan, Paling utama dan pertama adalah materi, yak i benda, zat, kenyataan fisik.
Sedangkan kesadaran, pikiran, dan roh muncul kemudian sebagai sifat atau hasil dari materi tersebut.
Secara Singkat, Apa Yang Dijawab Materialisme?
✓ Dari mana segala sesuatu berasal?
Jawaban: Dari materi yang sudah ada, berubah wujud terus-menerus.
✓ Apa yang menentukan pikiran kita?
Jawaban: Kenyataan di luar pikiran yang masuk lewat pengalaman.
✓ Bagaimana dunia berubah?
Jawaban: Karena sifat materi sendiri, bukan dari luar.
✓ Bagaimana kita tahu benar atau salah?
Jawaban: Bandingkan kembali dengan kenyataan.
✓ Bagaimana masyarakat berubah?
Jawaban: Dari cara orang memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ringkasnya, Materialisme membahas dunia apa adanya, apa isinya, bagaimana ia bergerak, bagaimana kita mengetahuinya, dan bagaimana masyarakat berubah, tapi dengan satu prinsip tetap, yakni yang nyata dan berwujud datang lebih dulu sedangkan pikiran dan gagasan datang kemudian.
Apa itu Dialetika?
Kata Dialektika berasal dari bahasa Yunani Kuno: Dia (Melalui, ke seberang, saling), Legein (Berbicara, berdiskusi, menalar, mengumpulkan pemikiran), Dialektikē (Seni berdiskusi, seni bertanya dan menjawab, seni berdebat untuk mencari kebenaran).
Secara harfiah, Dialektika adalah seni berbicara saling bertukar pikiran, bertanya dan menjawab, untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam.
Perjalanan Makna: Dari Diskusi ke Gerak Dunia
✓ Zaman Yunani Kuno era Socrates hingga Plato
Makna Dialektika ialah Seni bertanya dan menjawab, berdebat secara teratur untuk menguji gagasan, memisahkan yang benar dan yang salah, hingga menemukan kebenaran. Dialektika sama dengan cara berpikir lewat percakapan.
✓ Aristoteles
Menjadikannya alat berpikir yang lebih teratur, serta cara menarik kesimpulan dari pendapat yang berbeda.
✓ Hegel
Memperluas makna, menjadikan dialektika bukan hanya cara kita berbicara, melainkan hukum yang mengatur bagaimana pikiran dan dunia itu sendiri berubah, lewat pertentangan hal-hal yang berlawanan.
✓ Marx dan Pengikutnya
Memisahkan dari gagasan murni, yaitu dialektika menjadi hukum perubahan dunia nyata antara lain, materi, alam, masyarakat bergerak maju lewat pertentangan hal-hal yang saling berlawanan.
Catatan! Walaupun maknanya meluas hingga menjadi hukum perubahan alam dan masyarakat, akar katanya tetap terasa
Dialektika lahir dari pengalaman, ketika dua pandangan berbeda saling berhadapan, saling bertanya, saling menguji, maka lahirlah pemahaman yang lebih utuh dan lebih benar.
Dari percakapan itulah kemudian dipahami, demikian pula dunia nyata bergerak, hal-hal yang berlawanan saling berhadapan, lalu melahirkan keadaan baru.
Perbedaan Sederhana
✓ Seni berdiskusi, bertanya-jawab (Makna Awal). Hukum perubahan alam, masyarakat, dan pikiran (Makna Berkembang).
✓ Menyelesaikan perbedaan pendapat (Makna Awal). Menjelaskan bagaimana segala sesuatu berubah dan maju (Makna Berkembang).
✓ Dipergunakan dalam percakapan (Makna Awal). Berlaku di segala bidang, baik fisik, sosial, sejarah, pemikiran (Makna Berkembang).
Perlu digarisbawahi! Secara etimologis, Dialektika berarti “seni berbicara dan berpikir, saling bertukar pandangan untuk mencapai kebenaran yang lebih utuh.”
Kemudian berkembang menjadi pemahaman, segala sesuatu berubah dan bergerak maju karena di dalamnya terdapat hal-hal yang saling berlawanan dan saling mempengaruhi.
Secara Singkat, Apa Yang Dijawab Dialektika?
✓ Apakah dunia diam atau bergerak?
Jawaban: Selalu bergerak dan berubah, tidak ada yang abadi.
✓ Dari mana perubahan berasal?
Jawaban: Dari hal-hal yang saling berlawanan di dalam benda itu sendiri.
✓ Bagaimana perubahan terjadi?
Jawaban: Lambat lalu mendadak menolak yang lama namun mempertahankan yang baik, bergerak maju ke tingkat lebih tinggi.
✓ Bagaimana melihat sesuatu?
Jawaban: Secara menyeluruh, bergerak, dan dalam hubungannya dengan hal lain.
✓ Ke mana arah perubahan?
Jawaban: Menuju bentuk yang lebih lengkap, lebih kaya, dan lebih maju meski berliku.
Ringkasnya, Dialektika membahas hukum gerak dan perubahan segala sesuatu, yakni bagaimana hal-hal saling berhubungan? bagaimana pertentangan di dalamnya menggerakkan perubahan? bagaimana perubahan lambat berubah menjadi mendasar? bagaimana baru muncul menolak yang lama namun tetap melanjutkan yang baik? Sehingga semuanya bergerak maju menuju bentuk yang lebih utuh.
Bagaimana Materialisme dan Dialektika Bekerja Bersama?
✓ Materialisme menyediakan fondasi: kita berpikir tentang kenyataan, bukan tentang bayangan.
✓ Dialektika menyediakan cara melihat: kenyataan itu tidak diam, selalu bergerak dan berubah lewat pertentangan di dalamnya.
✓ Jika hanya materialisme: melihat kenyataan tapi statis, tidak melihat perubahan.
✓ Jika hanya dialektika: melihat perubahan tapi tanpa fondasi nyata, mudah melayang ke gagasan belaka.
✓ Bersama: melihat kenyataan apa adanya, dan melihat perubahan di dalamnya.
Contoh Sederhana, Pertumbuhan Pohon
✓ Materialisme: Pohon itu ada, tumbuh dari tanah, air, dan cahaya — pikiran kita tidak menciptakan pohon.
✓ Dialektika: Bibit → tumbuh perlahan → mencapai ukuran tertentu → berubah menjadi pohon → menghasilkan buah → menua. Di dalamnya selalu ada hal lama dan hal baru yang saling menggantikan.
✓ Kesimpulan: Pohon itu nyata (Materialisme), dan ia terus berubah lewat tahap-tahap pertumbuhan (Dialektika).
Apa itu Logika?
Secara harfiah Logika berarti sesuatu berakar pada akal, disusun menurut aturan pikiran yang benar dan teratur.
Kata Logos dalam bahasa Yunani mula-mula berarti “kata yang diucapkan” namun bukan sekadar bunyi.
Melainkan kata yang teratur, yang bermakna, yang dapat dipahami. Dari makna itu berkembang menjadi:
✓ Akal budi yang menyusun kata itu.
✓ Aturan yang membuat pikiran menjadi jelas dan tidak bertentangan.
✓ Hubungan yang benar antara satu pemikiran, dan pemikiran lainnya.
Jadi secara asal-usul, Logika bermakna sebagai penyusunan pikiran menurut aturan yang benar, agar apa yang dikatakan selaras dengan akal, tidak bertentangan, dan dapat diikuti oleh siapa saja.
Perbedaan Makna Secara Perkembangan
✓ Kata yang teratur dan bermakna (Makna Awal). Aturan berpikir agar benar dan tidak meleset (Makna Berkembang).
✓ Cara menyusun ucapan agar dipahami (Makna Awal). Cara menarik kesimpulan yang sah dari hal yang diketahui (Makna Berkembang).
✓ Hubungan kata demi kata (Makna Awal). Hubungan pikiran, demi pikiran, dari premis menuju kesimpulan (Makna Berkembang).
Secara etimologis, Logika adalah ilmu atau aturan berpikir yang berakar pada akal, lalu menyusun pikiran secara runtut, konsisten, dan tidak bertentangan, sehingga dari hal yang diketahui dapat ditarik kesimpulan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Yang Dibahas Secara Rinci
✓ Menyusun Pikiran Secara Benar
– Bagaimana menyusun pengertian agar maknanya jelas, tidak berubah-ubah, dan tidak ganda.
– Bagaimana menyusun pernyataan agar tidak kabur dan tidak saling bertentangan.
– Bagaimana menyusun urutan pikiran: dari yang diketahui → yang disimpulkan → tanpa melompati celah.
✓ Menghindari Pertentangan
– Satu hal tidak dapat benar dan salah, pada saat yang sama, dan dari sudut pandang yang sama.
– Jika dua pernyataan saling berlawanan, keduanya tidak dapat benar dapat benar sekaligus.
– Menjaga agar apa yang diterima di awal, tidak ditolak di akhir tanpa alasan yang jelas.
✓ Menarik Kesimpulan yang Sah
– Dari hal yang umum ke hal yang khusus (penalaran deduktif).
– Dari hal yang khusus ke hal yang umum (penalaran induktif).
– Memastikan kesimpulan benar-benar mengikuti dari alasan yang dikemukakan, bukan sekadar ditarik sepihak.
– Memisahkan kesimpulan yang sah, karena susunannya dari kesimpulan yang kebetulan benar isinya.
✓ Mengenali Kesalahan Berpikir
– Kesalahan susunan pikiran (bentuk penalaran yang keliru).
– Kesalahan karena memburu perasaan atau nama besar bukan alasan yang sebenarnya.
– Kesalahan karena mengambil contoh yang belum cukup untuk membuat kesimpulan umum.
– Kesalahan karena berputar pada lingkaran, yang dibuktikan sudah diasumsikan sejak awal.
✓ Hubungan Antara Pikiran
– Bagian mana yang menjadi dasar, bagian mana yang menjadi turunan.
– Bagaimana satu pernyataan mengikuti, menegaskan, atau menolak pernyataan lain.
– Apa yang harus diterima jika kita sudah menerima hal sebelumnya.
✓ Membedakan Bentuk dan Isi
– Logika tidak menjamin isi pikiran benar, itu diuji di kenyataan (Materialisme)
– Logika menjamin jika alasannya benar, dan susunannya benar, maka kesimpulan pasti benar.
– Bisa saja susunannya benar tapi isinya salah, karena alasannya keliru. Logika hanya memeriksa jalannya pikiran, bukan asal bahan pikiran itu sendiri.
Secara Singkat, Apa Yang Dijawab Logika?
✓ Bagaimana menyusun pikiran agar jelas?
Jawaban: Tentukan makna sejak awal, jangan ubah di tengah jalan.
✓ Bagaimana agar tidak saling bertentangan?
Jawaban: Satu hal tidak boleh ya, dan tidak sekaligus.
✓ Kapan kesimpulan dianggap sah?
Jawaban: Jika ia benar-benar mengikuti dari alasan yang diberikan.
✓ Bagaimana mengenali pemikiran yang keliru?
Jawaban: Periksa urutannya, periksa apakah ada lompatan, periksa apakah berputar di tempat.
✓ Apakah Logika menjamin kebenaran isi?
Jawaban: Tidak! Ia menjamin kebenaran jalannya pikiran, Isi diuji kembali ke kenyataan.
Ringkasnya, Logika membahas aturan menyusun pikiran, yakni bagaimana memulai dari hal yang jelas? bagaimana menjaga agar tidak saling bertentangan? bagaimana menarik kesimpulan yang sah? bagaimana mengenali kesalahan berpikir, dan bagaimana membedakan? apakah kelirunya ada pada cara berpikir, atau ada pada kenyataan yang dipikirkan? (red2)






