Manado, SatuUntukSemua.id – Dinamika politik baik ditingkat nasional maupun daerah, kerap diwarnai dengan fenomena keluar-masuk kader partai. Perpindahan kader sering dimaknai sebagai guncangan, padahal dalam perspektif kelembagaan, hal tersebut merupakan bagian dari proses alamiah demokrasi dan konsolidasi organisasi.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG), Ilham Akbar Mustafa, menegaskan bahwa Partai Golkar memiliki fondasi ideologis, kelembagaan, dan sistem kaderisasi yang tidak bergantung pada satu individu.
“Golkar adalah partai besar dan partai sistem. Eksistensi Golkar tidak ditentukan oleh satu dua nama, melainkan oleh kolektivitas kader, struktur, dan nilai ideologis yang telah dirawat selama puluhan tahun. Sehingga apabila ada kader yang memilih untuk keluar, itu tidak menjadi persoalan prinsipil bagi keberlanjutan partai,” ujar Ilham, Selasa (14/7/2026).
Ilham menggarisbawahi arahan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, bahwa kunci kekuatan partai terletak pada konsolidasi yang dilakukan sejak dini. Konsolidasi tidak boleh ditunda hingga menjelang momentum Pemilihan Legislatif maupun Pemilihan Kepala Daerah.
“Pesan Ketum Bahlil sangat jelas. Konsolidasi harus dimulai dari sekarang, dari tingkat akar rumput, dari setiap desa dan kelurahan. Jangan menunggu tahun politik. Partai yang kuat adalah partai yang terus melakukan kaderisasi, pembinaan, dan merawat soliditas,” tegasnya.
Menurut Ilham, sebagai partai yang lahir dari rahim rakyat, Golkar wajib menjaga marwah sebagai partai yang berpihak pada kepentingan nasional. Mekanisme kaderisasi harus terus berjalan untuk melahirkan kepemimpinan baru yang berintegritas.
“Dalam demokrasi, perpindahan kader adalah dinamika wajar. Tugas kita adalah memastikan bahwa mereka yang tetap di Golkar memiliki militansi, loyalitas, dan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Ilham juga menegaskan identitas kedaerahannya sebagai putra Sulawesi Utara. Ibunya berasal dari Poigar, Kabupaten Bolaang Mongondow. Ia merupakan kader HMI yang memulai pengkaderan di Makassar, Universitas Hasanuddin.
“Saya lahir dari bumi Nyiur Melambai. Nilai HMI tentang intelektualitas, integritas, dan pengabdian menjadi dasar saya berpolitik. Dan di bawah komando Ketum Bahlil, kita semua dituntut untuk bekerja nyata, membangun partai dari bawah,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Ilham mengajak generasi muda untuk tidak alergi terhadap partai politik. Menurutnya, partai politik adalah instrumen utama dalam sistem demokrasi untuk memperjuangkan kebijakan publik.
“Saya mengajak kaum muda jangan alergi dengan partai politik. Karena pada akhirnya, semua kebijakan di Indonesia adalah kebijakan politik. Dan kebijakan politik itu menentukan arah kesejahteraan rakyat,” ujar Ilham.
Ia menegaskan, di bawah kepemimpinan Ketum Bahlil Lahadalia, Partai Golkar membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda untuk masuk, berproses, dan menjadi bagian dari pengambilan keputusan.
“Mari masuk ke partai, berpolitik dengan gagasan, berpolitik dengan integritas. Karena masa depan Indonesia ada di tangan anak muda yang mau terlibat membangun bangsa dari dalam sistem,” pungkasnya. (***)






