BI Sulut Dorong Investasi Berkualitas untuk Jaga Laju Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara
SatuUntukSemua.id – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara menegaskan pentingnya percepatan investasi berkualitas guna menjaga tren positif pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tekanan ekonomi global.
Hal tersebut mengemuka dalam Dedicated Team Meeting (DTM) Sulut 2026 yang digelar di Manado, Kamis (21/5/2026).
Kepala BI Sulut, Joko Supratikto mengatakan, Sulawesi Utara selama ini mampu mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Namun, kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat daerah perlu memperkuat sumber-sumber pertumbuhan baru, terutama melalui investasi produktif dan bernilai tambah tinggi.
“Di tengah ketidakpastian global, investasi harus menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara. Bukan hanya mengejar angka, tetapi investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan sektor riil, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Joko.
Pada Triwulan I 2026, pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Sulut tercatat sebesar 3,25 persen, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 4,10 persen. Sementara konsumsi pemerintah tumbuh 3,86 persen, juga tertinggal dibanding nasional yang mencapai 7,89 persen.
Meski demikian, BI menilai Sulut masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi melalui penguatan investasi strategis dan peningkatan sinergi pusat-daerah.
Sulawesi Utara sendiri menargetkan realisasi investasi sebesar Rp12,1 triliun pada 2026 atau meningkat hampir 20 persen dibanding capaian tahun sebelumnya sebesar Rp10,1 triliun. Namun hingga Triwulan I 2026, realisasi investasi baru mencapai Rp2,13 triliun.
Menurut Joko, keterbatasan ruang fiskal daerah akibat penurunan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) membuat investasi menjadi instrumen penting dalam menopang pembangunan ekonomi daerah.
“Dengan ruang fiskal yang semakin terbatas, investasi menjadi solusi penting untuk menjaga akselerasi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara,” katanya.
Untuk mempercepat realisasi investasi, BI Sulut mendorong pemanfaatan berbagai skema pembiayaan inovatif seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), optimalisasi peran BUMN dan BUMD, hingga kolaborasi dengan sektor swasta.
Sejumlah proyek strategis yang saat ini terus didorong antara lain pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, kawasan industri perikanan di Sangihe, proyek Refuse Derived Fuel (RDF) di Bolaang Mongondow yang menarik minat investor Jepang, hingga proyek angkutan umum massal Buy The Service (BTS) di Kota Manado yang telah memasuki tahap kontrak operasional dengan pihak swasta.
Selain itu, BI Sulut bersama Regional Investor Relations Unit (RIRU) juga mengarahkan fokus investasi pada sektor hilirisasi, ketahanan pangan dan agroindustri, energi terbarukan, serta kesehatan sebagai sektor unggulan yang dinilai mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang Sulut.
Sebagai langkah konkret, BI Sulut akan menjalankan tiga program utama pada Juni 2026 yakni capacity building, klinik investasi, dan North Sulawesi Investment Challenge (NSIC) guna memastikan proyek-proyek daerah siap ditawarkan kepada investor global.
“Kuncinya adalah sinergi. Jika semua pihak bergerak bersama dan proyek disiapkan dengan matang, kami optimistis investasi akan terus tumbuh dan memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara,” pungkas Joko.






