MANADO, SatuUntukSemua.id – Presidium Daerah IKA GMNI Sulawesi Utara Periode 2025 hingga 2030, Deon Yohanes Wonggo menyampaikan, Penetapan Berti Nugerah Zalukhu sebagai Ketua Komisariat GMNI Equil FEB Unsrat harus menjadi momentum memperkuat kembali fondasi ideologi, karakter, dan orientasi perjuangan organisasi.
Menurut Deon, menjadi Ketua Komisariat GMNI bukan sekadar memperoleh legitimasi organisatoris atau sekedar menjalankan roda kepengurusan, melainkan menerima tanggung jawab historis untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan nilai-nilai perjuangan yang menjadi identitas Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.
“GMNI bukan sekadar organisasi mahasiswa yang menghimpun orang-orang dengan semangat membara. GMNI adalah organisasi kader dan organisasi perjuangan yang memiliki pijakan ideologis jelas, yakni Marhaenisme. Karena itu, setiap kader, terlebih seorang Ketua Komisariat, harus memahami bahwa kepemimpinan organisasi tidak boleh tercerabut dari ideologi perjuangannya,” tegas Wonggo.
Ia menjelaskan, Marhaenisme sebagai asas perjuangan GMNI mengandung nilai Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Ketiganya harus menjadi kesadaran ideologis dalam membaca realitas sosial, memahami ketimpangan ekonomi, memperjuangkan keadilan, serta membangun keberpihakan terhadap kaum Marhaen,” ucapnya.
“Nasionalisme yang kita perjuangkan bukan nasionalisme yang berhenti pada simbol, slogan, atau romantisme kebangsaan. Nasionalisme harus memiliki watak sosial, yakni keberanian membela martabat bangsa sekaligus memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Patriotisme juga tidak cukup diwujudkan melalui retorika cinta tanah air, tetapi harus dibuktikan melalui pengabdian, keberanian bersikap, dan kesediaan berjuang demi kepentingan bangsa dan rakyat,” sambungnya.
Dia juga mengingatkan, Perjuangan GMNI harus senantiasa berpedoman pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila, khususnya nilai-nilai yang terkandung dalam pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945.
“Pembukaan UUD 1945 bukan sekadar teks konstitusional, melainkan kompas perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya, yakni melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menghadirkan keadilan sosial,” pukasnya.
Selain itu, Wonggo mengingatkan, kader GMNI harus memahami Trisakti Bung Karno sebagai arah pembangunan bangsa, yaitu berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan.
“Trisakti harus menjadi perspektif kader dalam melihat persoalan bangsa. Kita harus membangun kesadaran politik yang berdaulat, memperjuangkan kemandirian ekonomi, dan mempertahankan kepribadian bangsa di tengah arus globalisasi. Jangan sampai kader GMNI kehilangan orientasi kebangsaan dan justru menjadi penonton atas persoalan,”” tambahnya.
Lebih jauh, Diapun menekankan mengenai pentingnya setiap kader mengilhami dan mengimplementasikan lima prinsip fundamental, yakni Ideologi, Revolusi, Organisasi, Studi, dan Integrasi.
Pertama, ideologi menjadi fondasi dan arah perjuangan, Kedua Revolusi merupakan semangat perubahan mendasar terhadap tatanan sosial yang tidak adil, Ketiga Organisasi menjadi instrumen perjuangan yang terstruktur dan terorganisir, Keempat Studi merupakan kewajiban intelektual kader untuk memahami realitas dan menjawab persoalan rakyat.
Sedangkan Integrasi menjadi penanda bahwa perjuangan GMNI, tidak boleh terpisah dari perjuangan rakyat.
“Jangan sampai kita fasih berbicara tentang Marhaenisme, tetapi tidak memahami persoalan kaum Marhaen. Jangan sampai kita mengagungkan revolusi, tetapi malas melakukan studi. Jangan sampai kita berbicara tentang perjuangan rakyat, tetapi organisasi justru sibuk dengan konflik internal dan kepentingan pribadi. Lima prinsip Pancalogi harus hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan setiap kader,” pesannya.
Pesan Deon Yohanes Wonggo ke DPK “EQUIL”
Deon Wonggo berharap kepemimpinan Berti Nugerah Zalukhu di Komisariat GMNI Equil FEB Unsrat mampu membangun tradisi intelektual, memperkuat pendidikan ideologi, menjaga soliditas organisasi, serta melahirkan kader-kader memiliki keberanian berpikir sekaligus keteguhan dalam bertindak.
Ia juga mengingatkan, Predikat kader GMNI harus dibuktikan melalui kualitas pemikiran dan pengabdian nyata kepada masyarakat.
“Filosofi Pejuang-Pemikir, Pemikir-Pejuang harus menjadi karakter yang melekat pada setiap kader. Pejuang yang berpikir agar perjuangannya memiliki arah, dan pemikir yang berjuang agar ilmunya tidak terkurung dalam menara gading. Kita membutuhkan kader yang memiliki kedalaman ideologi, ketajaman analisis, kematangan organisasi, serta keberanian berpihak kepada rakyat,” tutup Deon Yohanes Wonggo, Presidium Daerah IKA GMNI Sulut Periode 2025–2030. (red)






