Penulis: Deon Yohanes Wonggo, Alumni GMNI Manado, Studi ilmu Komunikasi Pendalaman Humas 2009, dan Studi ilmu Politik UNPI Manado 2015
Bagi kader pergerakan, politik bukan sekadar orasi, sidang, atau perebutan jabatan. Politik adalah upaya membaca realitas, memahami pertentangan yang bergerak di dalamnya, lalu bertindak secara disiplin demi kepentingan rakyat.
Di sanalah Materialisme Dialektis dan Logika menjadi alat intelektual.
Pertama, Materialisme Dialektis mengajarkan agar berpijak pada realitas nyata dan melihat perubahan lahir dari kontradiksi.
Kedua, Logika mengajarkan agar berpikir konsisten, tidak melompat‑lompat dari dugaan menjadi kepastian.
Jika keduanya dalam sebuah kesatuan itu membuat kader tidak hanya berteriak untuk rakyat, tetapi benar‑benar mampu menganalisis realitas rakyat dan bertindak secara bertanggung jawab.
Intinya, Materialisme memberi titik berangkat ke realitas, lalu Dialektika memberi mata untuk melihat gerak dan kontradiksi, kemudian Logika memberi disiplin agar perjuangan tidak berubah menjadi emosi buta.
Penjelasan Konsep
A. Materialisme Dialektis, Bukan Materialisme Sederhana
Materialisme berarti, bahwa realitas material adalah dasar kesadaran.
Prinsip utamanya, adalah Realitas menentukan kesadaran, dan kesadaran mencerminkan realitas meskipun tidak selalu secara sempurna.
Artinya, Pertama Kader tidak boleh mulai dari keinginan pribadi, dogma kosong, atau harapan semata. Kedua Harus turun ke lapangan untuk membaca fakta, yakni kemiskinan, ketidakadilan, pengelolaan anggaran, dinamika organisasi. Ketiga, Bukan berarti materialisme berarti hanya mengejar uang. Ini adalah cara berpikir, yaitu berpijak pada yang nyata.
Dalam konteks Sulawesi Utara, Perlu diperhatikan bahwa Kader harus membaca Sulut bukan hanya dari teori, tetapi dari realitas lapangan.
Bagaimana ekonomi berjalan, siapa yang menderita, bagaimana organisasi bekerja, bagaimana akuntabilitas dijalankan.
Bukan berkata, Karena saya mau begitu, maka harus begitu, melainkan karena realitas begini, maka perjuangan harus disesuaikan demikian.
B. Dialektika
Dialektika adalah cara melihat bahwa segala sesuatu bergerak karena adanya kontradiksi.
Perlu diperhatikan, bahwa skema Tesis, Antitesis hingga Sintesis adalah kerangka bantu, bukan berarti setiap peristiwa pasti berjalan secara rapi demikian.
Secara sederhana, Tesis itu Keadaan awal, Antitesis adalah Kontradiksi yang muncul, sedangkan Sintesis merupakan Keadaan baru yang lahir apabila kontradiksi diolah dengan benar.
✓ Contoh politik organisasi
– Tesis: Sidang Organisasi seharusnya menjadi ruang musyawarah demokratis.
– Antitesis: Muncul dominasi, mufakat palsu, keputusan diambil di luar mekanisme.
– Sintesis: Lahir kesadaran untuk memperbaiki budaya sidang melalui kaderisasi, peneguhan AD/ART, dan disiplin organisasi.
✓ Contoh perjuangan rakyat
– Tesis: Dana publik seharusnya dipergunakan untuk kepentingan rakyat.
– Antitesis: Muncul penyalahgunaan dan lemahnya akuntabilitas.
– Sintesis: Lahir gerakan pengawasan, advokasi, dan penegakan hukum.
✓ Makna bagi kader
Konflik bukan otomatis berarti kerusakan, tetapi konflik dapat menjadi pendorong perubahan asal diolah secara demokratis.
Kemudian sidang organisasi sehat adalah dialektika yang hidup, lalu sidang rusak adalah dialektika yang meledak menjadi saling serang.
C. Logika
Logika adalah disiplin berpikir, yakni menjaga sebab akibat, konsistensi, dan menghindari kontradiksi yang tidak perlu.
✓ Logika bertanya kepada kader
– Apakah ini fakta atau dugaan?
– Apakah kesimpulan saya sesuai bukti?
– Apakah saya menyerang gagasan, atau menyerang pribadi?
– Apakah saya sudah membedakan kewenangan forum, mekanisme sidang, dan keputusan yang sah?
✓ Kesalahan logika yang sering terjadi dalam politik organisasi
– “Ia berbeda pendapat berarti anti‑organisasi.”
– “Karena suara paling keras berarti benar.”
– “Karena saya mau menang, maka itu disebut kemenangan organisasi.”
– “Belum ada bukti tetapi sudah dinyatakan bersalah.”
Maka berpikir logis berarti berkata, ini adalah fakta, ini adalah dugaan, ini adalah kemungkinan, ini adalah keputusan yang sah, dan ini adalah tindakan yang harus diambil.
Kesatuan antara Materialisme Dialektis Plus Logika
Materialisme Dialektis sama dengan Berpijak pada realitas dan melihat gerak kontradiksi.
Logika sama dengan Menjaga jalur berpikir agar tidak melantur.
✓ Ilustrasi utuh untuk kader
1. Materialisme Dialektis
Melihat adanya kelemahan budaya organisasi yang lahir dari kontradiksi antara kepentingan organisasi dan kepentingan pribadi.
2. Dialektika
Memahami bahwa kelemahan itu tidak akan hilang sendirian, ia harus diolah menjadi kesadaran baru.
3. Logika
Menarik kesimpulan, yang harus dilakukan adalah kaderisasi, peneguhan AD/ART, perbaikan mekanisme sidang organisasi bukan hanya marah‑marah.
Intinya, Materialisme Dialektis memberi mata untuk membaca realitas dan geraknya, Dialektika memberi kerangka untuk memahami kontradiksi, baru Logika memberi disiplin agar perjuangan tidak berubah menjadi emosi buta.
Relevansi bagi Seorang Marhaenis
✓ Bagi seorang kader GMNI
– Tanpa Materialisme Dialektis: Perjuangan menjadi retorika kosong.
– Tanpa Dialektika: Kader menjadi kaku, tidak paham dinamika organisasi dan masyarakat.
– Tanpa Logika: Politik menjadi saling tuduh, melompat kesimpulan, kehilangan akuntabilitas.
– Dengan ketiganya utuh: Lahir kader intelektual yang mampu membaca realitas, memahami kontradiksi, lalu bertindak secara teratur demi kepentingan rakyat.
Hipotesis
Semakin seorang Marhaenis menguasai kesatuan Materialisme Dialektis dan Logika, semakin dirinya mampu mengubah politik organisasi dari arena perebutan pengaruh menjadi perjuangan berbasis realitas.
Sebaliknya, tanpa penguasaan tersebut, politik berisiko jatuh ke dalam dogmatisme, emosi buta, dan saling serang.
Kesimpulan
Materialisme Dialektis mengajarkan seorang kader untuk mulai dari yang nyata dan melihat dunia dalam gerak, serta kontradiksi.
Dialektika mengajarkan bahwa perubahan lahir dari pertentangan yang diolah dengan benar.
Logika mengajarkan agar berpikir teratur, tidak melompat langsung ke kesimpulan, dan menjaga akuntabilitas
Bagi kader pergerakan, ini bukan sekadar filsafat kelas melainkan alat politik agar kader tidak hanya berteriak untuk rakyat, tetapi benar‑benar mampu membaca realitas rakyat, memahami perubahan, lalu bertindak secara bertanggung jawab. (red)






