Penulis: Deon Yohanes Wonggo, Presidium Daerah IKA GMNI Sulut Periode 2025-2030
Budaya bukan hanya soal pakaian, makanan, tarian, bahasa daerah, atau upaya menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Lebih dari itu, terdapat satu aspek yang tidak kalah penting dalam kehidupan bermasyarakat, yakni tata krama.
Tata krama bukan sekadar aturan tentang bagaimana seseorang berbicara, bersikap, atau menghormati orang lain.
Di dalamnya terkandung nilai moral, penghargaan terhadap sesama, kesadaran akan kedudukan diri, serta kemampuan menempatkan diri secara tepat dalam berbagai situasi sosial.
Dalam kehidupan berorganisasi, khususnya organisasi pergerakan mahasiswa, tata krama memiliki kedudukan yang penting.
Ideologi yang kuat tanpa dibarengi etika dapat kehilangan makna dalam praktiknya. Begitu pula semangat perjuangan yang besar, apabila tidak disertai kedewasaan dalam bersikap, berpotensi melahirkan konflik yang justru melemahkan organisasi itu sendiri.
Hal ini menjadi relevan ketika kita berbicara tentang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), terutama dalam konteks dinamika organisasi di Sulawesi Utara.
GMNI: Lebih dari Sekadar Organisasi Mahasiswa
GMNI bukan sekadar wadah berkumpulnya mahasiswa, tempat menyelenggarakan kegiatan, atau ruang untuk membangun jaringan pertemanan.
Sebagai organisasi kader dan perjuangan, GMNI memiliki tanggung jawab ideologis untuk membentuk mahasiswa yang memahami realitas sosial, memiliki keberpihakan terhadap rakyat, serta mampu menerjemahkan nilai-nilai Marhaenisme ke dalam tindakan nyata.
Kaderisasi tidak boleh berhenti pada forum formal, penyampaian materi, atau pemenuhan persyaratan administratif organisasi.
Kaderisasi harus menjadi proses pembentukan karakter, penajaman nalar kritis, pendewasaan sikap, dan penguatan komitmen perjuangan.
Seorang kader GMNI idealnya tidak hanya mampu berbicara tentang Marhaenisme, nasionalisme, dan perjuangan rakyat, tetapi juga menunjukkan nilai-nilai itu melalui perilaku sehari-hari.
Menghormati sesama kader, menghargai perbedaan pandangan, menjaga etika komunikasi, serta memahami mekanisme organisasi merupakan bagian dari pendidikan ideologis itu sendiri.
Sebab, ideologi bukan hanya sesuatu yang dihafalkan, melainkan nilai yang harus dihidupi.
Urgensi Kehadiran Alumni
Melompat lebih jauh, terdapat kebutuhan yang patut menjadi perhatian bersama dalam tubuh GMNI di Sulawesi Utara, yakni pentingnya kehadiran senior dan alumni sebagai pembimbing ideologis maupun taktis bagi kader di setiap tingkatan, mulai dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Dewan Pimpinan Cabang (DPC), hingga Dewan Pimpinan Komisariat (DPK).
Kehadiran senior atau alumni bukan dimaksudkan untuk mengambil alih kewenangan pengurus aktif, mengintervensi keputusan organisasi, atau menjadikan pengalaman masa lalu sebagai alat untuk mendominasi generasi yang sedang berproses.
Sebaliknya, mereka diharapkan menjadi sumber pengetahuan, ruang konsultasi, serta jembatan pengalaman yang dapat membantu kader muda memahami kompleksitas organisasi dan realitas perjuangan.
Senior memiliki pengalaman menghadapi dinamika internal, perbedaan kepentingan, pergantian kepemimpinan, hingga tantangan dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Pengalaman tersebut merupakan modal berharga apabila diwariskan melalui proses pendampingan yang sehat.
Di sinilah pentingnya bimbingan ideologis dan taktis. Bimbingan ideologis diperlukan agar kader tidak kehilangan orientasi perjuangan dan tetap memahami nilai-nilai dasar organisasi.
Sementara itu, bimbingan taktis diperlukan agar kader mampu menerjemahkan prinsip perjuangan ke dalam langkah-langkah strategis yang terukur, sesuai dengan situasi sosial, politik, dan kebudayaan di lingkungannya.
Dengan demikian, kader muda tidak dibiarkan berjalan sendirian menghadapi berbagai persoalan organisasi.
Mereka tetap memiliki ruang untuk bereksperimen, mengambil keputusan, dan belajar dari kesalahan, tetapi juga memperoleh pendampingan dari mereka yang telah lebih dahulu melewati proses serupa.
Senioritas Bukan Kekuasaan, Melainkan Tanggung Jawab Moral
Satu hal yang perlu ditegaskan adalah bahwa senioritas tidak boleh dipahami semata-mata sebagai perbedaan usia, lamanya seseorang berada dalam organisasi, atau kedudukan yang pernah diemban.
Senioritas seharusnya tercermin dalam kematangan berpikir, keluasan wawasan, keteladanan, serta kemampuan membimbing generasi berikutnya.
Seorang senior tidak cukup hanya menuntut penghormatan dari kader yang lebih muda. Ia juga harus mampu menunjukkan sikap yang layak dihormati.
Nasihat akan kehilangan kekuatannya ketika disampaikan melalui penghinaan, intimidasi, atau tindakan yang merendahkan martabat kader.
Sebaliknya, kader muda juga perlu memahami bahwa kritik terhadap senior tidak harus diwujudkan melalui sikap yang mengabaikan etika.
Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi perjuangan, tetapi cara menyampaikan perbedaan tersebut tetap membutuhkan kedewasaan.
Tata krama dalam hubungan senior dan junior bukan berarti membangun budaya feodal yang menempatkan satu kelompok sebagai pihak yang selalu benar.
Justru Tata krama menjadi fondasi bagi dialog yang sehat, penghormatan timbal balik, dan proses pertukaran gagasan tanpa menghilangkan prinsip kesetaraan martabat manusia.
Senior harus bersedia mendengar, sementara junior perlu belajar menghargai pengalaman.
Senior juga tidak boleh mematikan daya kritis kader, dan kader tidak seharusnya menutup diri terhadap nasihat yang disampaikan secara bertanggung jawab.
Dengan pola hubungan seperti ini, organisasi dapat berkembang tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang menjadi landasan perjuangannya.
Membangun Tradisi Pendampingan di Sulawesi Utara
Dalam konteks GMNI Sulawesi Utara, kebutuhan terhadap sistem pendampingan yang berkelanjutan patut menjadi agenda bersama. DPD, DPC, dan DPK memiliki karakteristik serta tantangan yang berbeda.
Oleh karena itu, pendekatan pembinaan tidak dapat diseragamkan sepenuhnya, tetapi harus tetap berpijak pada nilai ideologis dan tujuan perjuangan organisasi.
DPD dapat mengambil peran strategis dalam membangun komunikasi antar cabang, mempertemukan senior dan alumni dengan kader aktif, serta mendorong terbentuknya ruang diskusi ideologis yang berkesinambungan.
DPC dapat memperkuat pendampingan terhadap komisariat, khususnya dalam menghadapi dinamika organisasi dan kebutuhan kaderisasi di tingkat kampus.
Sementara itu, DPK perlu menjadi ruang pertama tempat kader mempelajari praktik berorganisasi, membangun disiplin, mengembangkan daya kritis, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Para senior atau alumni dapat dilibatkan dalam diskusi rutin, kelas ideologi, pendampingan kepemimpinan, serta forum evaluasi organisasi.
Namun, pelibatan tersebut perlu dibangun berdasarkan kesepahaman, penghormatan terhadap mekanisme organisasi, dan kesediaan untuk berbagi pengalaman secara terbuka.
Yang tidak kalah penting, pembinaan harus berlangsung secara konsisten, bukan hanya ketika organisasi menghadapi konflik, pergantian kepemimpinan, atau persoalan tertentu.
Pendampingan yang baik justru dibangun jauh sebelum masalah muncul. Sebab, organisasi yang kuat bukan organisasi yang tidak pernah mengalami persoalan, melainkan organisasi yang memiliki tradisi dialog, mekanisme penyelesaian konflik, dan kader-kader yang mampu belajar dari setiap tantangan.
Menjaga Budaya, Merawat Ideologi, dan Meneruskan Perjuangan
Pada akhirnya, menjaga budaya berarti juga menjaga nilai-nilai yang membentuk kualitas manusia dalam kehidupan bersama.
Tata krama menjadi bagian penting dari upaya tersebut karena mengajarkan penghormatan, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa kebebasan individu selalu berhubungan dengan keberadaan orang lain.
Bagi GMNI, tata krama tidak boleh berhenti sebagai persoalan sopan santun personal. Ia harus menjadi bagian dari kebudayaan organisasi yang menopang kaderisasi, memperkuat solidaritas, dan menjaga keberlanjutan perjuangan.
Kehadiran senior dan alumni dalam memberikan bimbingan ideologis dan taktis merupakan salah satu kebutuhan penting untuk mewujudkan hal tersebut.
Tetapi, pembinaan hanya akan efektif apabila dibangun di atas hubungan yang saling menghormati, keteladanan, keterbukaan terhadap kritik, dan komitmen bersama terhadap nilai-nilai perjuangan.
GMNI Sulawesi Utara membutuhkan kader muda yang progresif, kritis, dan berani mengambil inisiatif.
Pada saat yang sama, organisasi ini membutuhkan alumni yang bersedia mendampingi tanpa mendominasi, mengarahkan tanpa mengekang, serta mengoreksi tanpa merendahkan.
Sebab, perjuangan tidak hanya membutuhkan keberanian untuk melawan ketidakadilan di luar organisasi, tetapi juga kebijaksanaan untuk merawat nilai-nilai di dalamnya.
Ideologi memberikan arah, strategi menentukan langkah, dan tata krama menjaga martabat perjuangan. Ketiganya harus berjalan beriringan agar GMNI tidak hanya mampu melahirkan kader yang cerdas dalam berpikir, tetapi juga dewasa dalam bersikap dan bertanggung jawab dalam bertindak.
Pada titik inilah, hubungan antara senior, alumni, dan kader aktif menemukan makna yang sesungguhnya, bukan hubungan yang dibangun atas dasar kekuasaan dan kepatuhan tanpa pertanyaan, melainkan kemitraan antargenerasi untuk merawat ideologi, memperkuat organisasi, dan meneruskan cita-cita perjuangan.
Karena organisasi pergerakan yang besar bukan hanya organisasi yang mampu melahirkan pemimpin pada hari ini, melainkan organisasi yang sanggup mempersiapkan generasi berikutnya tanpa kehilangan nilai, arah, dan jati dirinya. (red)






