MANADO, SatuUntukSemua.id – Ancaman El Nino yang diprediksi BMKG akan memuncak pada September hingga Oktober 2026 tidak hanya berdampak pada ketersediaan air. Di Sulawesi Utara, fenomena ini juga diproyeksikan menekan laju pertumbuhan ekonomi daerah jika tidak diantisipasi sejak dini.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Jemmy Ringkuangan, menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa hanya fokus pada penanganan kekeringan. Isu utama yang harus dijaga adalah stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, dan keberlanjutan program pembangunan.
“Warga Sulut dan para pelaku usaha diminta untuk mulai beradaptasi. El Nino bisa memicu gagal panen di sektor pertanian dan perikanan. Kalau produksi turun, maka harga bahan pokok pasti naik. Ujung-ujungnya inflasi dan daya beli masyarakat yang tertekan,” kata Ringkuangan.
Menurut data awal dari Dinas Pertanian dan BPS Sulut, tiga sektor yang paling rentan adalah pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan UMKM pangan. Daerah sentra seperti Minahasa, Bolaang Mongondow, Kepulauan Sangihe, dan Minahasa Tenggara berpotensi mengalami penurunan produktivitas jika kemarau panjang terjadi.
Untuk meredam gejolak tersebut, Jemmy memaparkan kepada media tentang empat strategi utama yang sudah disiapkan Pemprov bersama OPD terkait:
1. Stabilisasi Harga dan Pengendalian Inflasi.
Pemprov akan mengintensifkan operasi pasar murah, sidak ke distributor dan pasar tradisional, serta memperkuat koordinasi dengan Bulog dan BI Sulut untuk memastikan stok beras, minyak goreng, gula, dan cabai aman. Tim Pengendalian Inflasi Daerah juga diminta aktif memantau 15 komoditas utama setiap minggu.
2. Penguatan Sektor Produktif dan Ketahanan Pangan.
Petani didorong beralih ke komoditas tahan kering seperti ubi, jagung, dan sorgum. Penyaluran bantuan benih, pupuk, serta pompanisasi juga dipercepat. Selain itu, embung dan irigasi hemat air akan diprioritaskan di lokasi-lokasi rawan kekeringan.
3. Perlindungan dan Penguatan UMKM.
UMKM pangan menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Pemprov akan memfasilitasi akses permodalan melalui kur dan BUMD, serta memberikan pelatihan diversifikasi produk. Tujuannya agar UMKM tidak mati saat harga bahan baku naik.
4. Adaptasi Proyek Pembangunan Infrastruktur
Jemmy menekankan pembangunan tidak boleh berhenti. Namun perlu ada penyesuaian. Proyek-proyek yang membutuhkan banyak air akan ditinjau ulang jadwalnya. Sebaliknya, pembangunan embung, sumur bor, dan jaringan air bersih untuk masyarakat justru dipercepat.
“Pembangunan harus tetap jalan, tapi kita harus adaptif. Jangan sampai karena El Nino, proyek strategis mangkrak. Kita ubah skenario, bukan menghentikan,” tegasnya.
Jemmy juga mengajak seluruh bupati/wali kota, TNI, Polri, perbankan, dan asosiasi usaha di Sulut, untuk memiliki satu data dan satu kebijakan. Targetnya, pertumbuhan ekonomi Sulut di tahun 2026 tetap bisa terjaga di atas 5 persen meskipun ada tekanan El Nino.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Ini ujian bersama untuk perekonomian kita. Kalau kita kompak, mulai dari petani, pedagang, sampai pemerintah, maka dampak El Nino bisa kita minimalkan,” tutupnya. (***)






