Jokowi Effect, Masih Berlaku Ke 2029?

Kunjungan Presiden ke-7 Joko Widodo ke NTT beberapa waktu lalu.

Sejak nama Joko Widodo melesat menduduki puncak popularitas politik nasional, lahirlah satu fenomena yang belum pernah sebelumnya tercatat dalam sejarah perpolitikan Indonesia.

Kemampuannya mendongkrak dukungan rakyat secara langsung, melampaui batas-batas partai dan lembaga, dikenal luas sebagai “Jokowi Effect”.

Sebuah kekuatan pengaruh tampaknya lahir bukan dari struktur kekuasaan, melainkan dari kepercayaan yang tumbuh langsung dari hati rakyat.

Setelah masa jabatan Presiden berakhir, muncul pertanyaan yang menyita perhatian banyak kalangan:

Apakah pengaruh itu ikut berakhir ketika ia meninggalkan Istana?

Atau justru tumbuh dan berubah wujud menjadi sesuatu yang lain?

Banyak beranggapan bahwa kekuasaan melekat pada jabatan maka ketika jabatan berakhir, berakhirlah pula pengaruhnya.

Tidak sedikit pula meyakini sebaliknya, bahwa pengaruh bersumber dari kepercayaan rakyat tidak memiliki batas masa jabatan.

Di sinilah letak pentingnya kajian ini, bukan sekadar memperdebatkan pendapat, melainkan membedah kenyataan secara mendalam menggunakan kerangka berpikir utuh dan ilmiah.

Dengan memadukan temuan penelitian para ahli politik terkemuka, mulai dari pengukuran pertama kali munculnya fenomena ini pada tahun 2013, hingga kajian-kajian terkini pasca jabatan, serta menyatukannya dalam kerangka berpikir ilmiah, kita berharap dapat menemukan jawaban tidak hanya masuk akal, tetapi juga berpijak pada kenyataan sesungguhnya.

Pada akhirnya pertanyaan ini bukan sekadar tentang satu tokoh, ini adalah pertanyaan tentang hakikat kekuasaan itu sendiri, yaitu dari mana ia berasal? di mana ia bersemayam? kapan ia benar-benar berakhir?

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memahami politik tidak hanya dari permukaannya, melainkan hingga ke akar-akar kenyataannya.

I. Lihatlah Apa Adanya

Materialisme mengajarkan, Materi adalah yang utama. Kesadaran dan pengaruh lahir dari kenyataan yang nyata, bukan sebaliknya.

Jadi kita harus bertanya, dari mana sebenarnya pengaruh Jokowi itu berasal?

Dalam buku Ruling Indonesia, Marcus Mietzner menjelaskan inti fenomena ini, yaitu kekuasaan Jokowi bersifat personal, bukan kelembagaan.

Artinya, sumber kekuatannya bukanlah jabatan presiden, bukan pula dukungan partai.

Sumber kekuatannya adalah kepercayaan rakyat langsung, dibangun perlahan lewat kerja nyata, pembangunan yang terlihat, dan kehadiran yang dirasakan hingga ke pelosok negeri.

Sana Jaffrey dan Eve Warburton menegaskan hal serupa, yakni Ia meninggalkan jabatan, namun membawa serta kepercayaan rakyat yang tak tergantikan.

Secara Materialisme jawabannya sangat jelas, Yang hilang saat ia turun jabatan hanyalah kekuasaan memerintah.

Sedangkan yang tidak hilang adalah materi utamanya, yaitu kepercayaan rakyat itu sendiri, dan karena materinya tetap ada, maka pengaruhnya pun tetap ada.

II. Lihatlah Perubahannya 

Dialektika mengajarkan, Tidak ada yang tetap. Segala sesuatu bergerak dan berubah karena pertentangan di dalamnya. Maka kita melihat apa yang berubah, dan apa yang tetap:

Pertama, perubahan kuantitas menjadi kualitas. 

Pengaruh Jokowi tumbuh perlahan dari kepercayaan sedikit menjadi kepercayaan luas. Kini, meski mungkin berkurang sedikit secara kuantitas, hakikat kualitasnya tidak berubah, bahwa ia tetap kepercayaan rakyat langsung.

Kedua, pertentangan pemahaman lama dan fakta baru. 

Pemahaman lama menyatakan kekuasaan hilang saat jabatan berakhir. Namun fakta baru menunjukkan kepercayaan rakyat tetap utuh. Dari pertentangan itu lahir pemahaman baru, yakni kekuasaan yang bersumber dari rakyat tidak memiliki batas masa jabatan.

Ketiga, negasi atas negasi. 

Yang berakhir hanyalah keterikatan-keterikatan jabatan. Muncul berikutnya adalah pengaruh yang lebih bebas, lebih murni, dan lebih ditunggu-tunggu. Yang lama digantikan, namun yang baik tetap diambil dan dikembangkan lebih tinggi lagi.

Maka secara Dialektika, Jokowi Effect tidak hilang. Ia hanya berubah wujud dari pengaruh yang terikat jabatan, menjadi pengaruh yang bebas dan murni.

III. Tariklah Kesimpulan Secara Runtut

Jika kita menyusun fakta secara berurutan, antara lain:

Premis 1

Pengaruh seseorang bertahan atau hilang tergantung pada sumbernya. Jika sumbernya jabatan → hilang saat jabatan berakhir. Jika sumbernya kepercayaan rakyat → tidak berakhir saat jabatan berakhir.

Premis 2

Berdasarkan penelitian, sumber pengaruh Jokowi adalah kepercayaan rakyat langsung bukan jabatan, bukan partai, bukan kekuasaan negara.

Premis 3

Kepercayaan rakyat itu tidak berkurang secara berarti hanya karena ia meninggalkan Istana.

Kesimpulan: Pengaruh Jokowi tidak berakhir saat ia turun jabatan. Jokowi Effect tetap berlaku.

Logikanya sederhana namun tak terbantahkan, Karena sumber kekuatannya bukanlah jabatan, maka ia tidak berakhir saat jabatan berakhir.

Yang berubah hanyalah kebebasannya untuk bergerak, kini ia bebas menyatakan dukungan tanpa dibatasi kenetralan jabatan.

Pengaruhnya justru menjadi lebih fokus, lebih ditunggu, dan lebih terasa maknanya.

IV. Kesimpulan

Ketiga cara berpikir dan seluruh temuan penelitian akhirnya bertemu pada satu jawaban yang sama:

* Berdasarkan Penelitian

Besar pengaruhnya memang berkurang dari puncak 16 poin menjadi 8–12 poin, namun tetap merupakan kekuatan luar biasa besar yang mampu mengubah peta politik nasional.

* Secara Materialisme

Materi utamanya adalah kepercayaan rakyat tetap utuh, Maka pengaruhnya pun tetap utuh.

* Secara Dialektika

Yang berubah hanyalah wujudnya, bukan hakikatnya. Dari terikat jabatan menjadi bebas menyatakan dukungan.

* Secara Logika

Karena sumber kekuatannya bukan jabatan, maka tidak berakhir saat jabatan berakhir.

Jadi, apakah Jokowi Effect masih berlaku?

Masih berlaku, Masih terasa, Dan tetap menjadi salah satu kekuatan terbesar yang menentukan arah politik Indonesia menjelang masa depan.

Karena sumber kekuatannya bukanlah tanda tangan di atas surat keputusan.

Bukan pula lambang jabatan di dada, Sumber kekuatannya adalah kepercayaan rakyat dan kepercayaan rakyat tidak pernah berakhir. (red2)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *