SatuUntukSemua.id, Jakarta – Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menetapkan kerangka kerja ilmiah ketat dalam merilis hasil survei nasional periode 5 hingga 19 Juli 2026.
Tentu ini dilakukan guna memastikan data diperoleh benar‑benar mencerminkan kehendak seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Secara garis besar, populasi yang menjadi sasaran adalah seluruh warga negara yang memiliki hak pilih, yakni berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah saat survei dilakukan.
Secara keseluruhan, total responden yang terlibat dalam penelitian ini mencapai 749 orang.
Dengan komposisi tersebut, margin kesalahan diperkirakan berada di angka ±3,7 persen, pada tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.
Hal ini menegaskan bahwa hasil survei memiliki landasan metodologis yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Berikut rincian lengkap perolehan suara nama‑nama masuk dalam simulasi Survei SMRC:
– Dedi Mulyadi 35,0%
– Prabowo Subianto 14,5%
– Anies Baswedan 8,2%
– Gibran Rakabuming Raka 7,7%
– Agus Harimurti Yudhoyono 4,9%
– Ganjar Pranowo 4,2%
– Mahfud MD 4,0%
– Puan Maharani 1,3%
– Sherly Tjoanda 1,2%
– Purabaya Yudi Sadewa 1,1%
– Surya Paloh 1,0%
– Lainnya 4,0%
– Tidak Tahu/Tidak Menjawab 12,8%
Salah satu nama mencuri perhatian adalah Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara tercatat memiliki elektabilitas nasional sebesar 1,2%.
Fenomena munculnya nama Sherly, Intelektual Muda Katolik, Agnes Laratmase mengatakan, Angka tersebut menunjukkan bahwa sosok pemimpin daerah yang memiliki rekam jejak kinerja nyata mulai dikenal dan mendapat tempat di hati pemilih secara nasional.
“Itu harusnya menjadi trigger bagi Kepala Daerah lain agar terpacu untuk terus bekerja lebih keras buat rakyat mereka masing-masing, apalagi beliau salah satu contoh perempuan menembus barrier klasik berbasis gender,” ucap Mantan Kapres PMKRI Manado itu, Rabu (29/7/2026) ke Satu Untuk Semua.
“Apalagi Kepala Daerah perempuan sekarang mulai bisa diterima secara lebih luas, berdasarkan kinerja mereka bukan sekadar latar belakang sentimen suku, agama ataupun ras,” tutup Jebolan Jurusan ilmu Komunikasi Fisip Unsrat angkatan masuk 2019 tersebut menggarisbawahi. (red2)





