Sulut Tuan Rumah World Coconut Day 2026, Targetkan Jadi Pusat Industri dan Ekspor Kelapa Dunia

Darwin Muksin, Kepala Dinas Perkebunan Sulut

MANADO, SatuUntukSemua.id – Provinsi Sulawesi Utara memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia. Komoditas kelapa di Sulut tidak hanya menjadi sumber penghidupan ratusan ribu pekebun, tetapi juga penggerak utama industri pengolahan, penyumbang devisa, dan sektor dengan nilai investasi terbesar di daerah.

Berdasarkan data statistik perkebunan 2025, luas areal kelapa di Sulut berada pada kisaran 262–265 ribu ha. Sementara data investasi mencatat total areal 273.185 ha. Selisih tersebut dinilai wajar karena perbedaan periode pembaruan dan cakupan perhitungan.

Dari total areal itu, 204.016 ha merupakan tanaman menghasilkan (TM), 28.448 ha tanaman belum menghasilkan (TBM), dan 28.722 ha tanaman tua/rusak yang perlu diremajakan. Dengan populasi 22.441.980 pohon produktif atau rata-rata 110 pohon per ha, produktivitas kelapa mencapai 1.255 kg per ha, naik dari sebelumnya 1.248 kg per ha.

Meski produktivitas meningkat, produksi Sulut belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri pengolahan dalam daerah. Karena itu tantangan ke depan bukan lagi perluasan areal, melainkan peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman tua, penggunaan benih unggul bersertifikat, teknologi budidaya yang baik, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama terpadu.

Pemprov Sulut bersama Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan kawasan kelapa seluas 18.248 ha pada 2026 melalui bantuan benih, pupuk organik, dan biaya kebun. Dengan kebutuhan 110 bibit per ha, program ini memerlukan 2.007.280 bibit kelapa unggul bersertifikat untuk mempercepat peremajaan dan menjamin pasokan bahan baku industri.

Struktur usaha masih didominasi perkebunan rakyat seluas 204.016 ha atau 96,72%. Sisanya 4.719 ha perkebunan besar swasta dan 2.195 ha perkebunan besar negara. Dengan asumsi produksi 6.600 butir per ha per tahun dan harga Rp5.000 per butir, nilai produksi kelapa Sulut 2026 diperkirakan Rp6,96 triliun. Sekitar Rp6,73 triliun atau lebih dari 96% berasal dari perkebunan rakyat.

Di sisi hilir, ekspor produk kelapa dan turunannya 2025 mencapai USD304.500.513,34 atau sekitar Rp5,45 triliun. Produk seperti CCO, bungkil kopra, santan beku, dan tepung kelapa diekspor ke Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan Timur Tengah. Nilai itu setara 78,4% dari estimasi produksi di tingkat kebun.

Potensi ini juga terlihat dari investasi. Industri pengolahan kelapa skala menengah dan besar tercatat Rp478,53 triliun, sementara IKM Rp3,40 triliun. Total investasi sektor kelapa mencapai Rp481,93 triliun dan tersebar di pengolahan minyak kelapa, santan, tepung kelapa, tempurung, dan produk turunan lainnya.

Secara keseluruhan sektor kelapa Sulut bertumpu pada empat pilar: basis produksi luas, dominasi perkebunan rakyat, industri hilir berorientasi ekspor, dan nilai investasi besar. Keempatnya membentuk rantai nilai dari hulu hingga hilir.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara, Darwin Muksin, menegaskan arah kebijakan ke depan harus fokus pada peningkatan produktivitas dan hilirisasi.

“Kita tidak lagi bicara perluasan lahan, tapi bagaimana menaikkan produktivitas melalui peremajaan, benih unggul, dan teknologi. Perkebunan rakyat adalah tulang punggung. Jika produktivitas dan pendapatan pekebun naik, maka industri hilir dan ekspor kita akan semakin kuat. Sulut harus menjadi pusat kelapa Indonesia yang berdaya saing global,” ujar Darwin, Kamis (23/7/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa percepatan program 18.248 ha di 2026 menjadi langkah konkret untuk mempercepat peremajaan tanaman tua dan rusak, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri.

Puncak penguatan sektor kelapa Sulut akan ditandai dengan Peringatan Hari Kelapa Dunia atau World Coconut Day 2026 pada 7–10 Oktober 2026 di Sulawesi Utara dengan kehadiran 21 negara.

Kegiatan ini merupakan kerja sama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan International Coconut Community (ICC). Rangkaian acaranya meliputi International Conference, Global Exhibition, Business to Business (B2B) Meetings, Capacity Building, serta International Choir Competition sebagai ikon budaya daerah.

“World Coconut Day 2026 adalah momentum strategis. Ini bukti kepercayaan dunia kepada Sulut sebagai tuan rumah. Kita akan gunakan forum ini untuk memperkuat hilirisasi, memperluas pasar ekspor, menarik investasi, dan memperkenalkan inovasi pengolahan kelapa berkelanjutan,” tutup Darwin.

Dengan luas areal besar, dominasi pekebun rakyat, industri yang berkembang, dan nilai ekspor tinggi, Sulut menargetkan diri tidak hanya sebagai sentra produksi nasional, tetapi juga sebagai pusat kelapa dunia. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *