MANADO, SatuUntukSemua.id — Jeruji besi tidak memadamkan semangat berkarya. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Manado justru membuktikan bahwa masa pidana dapat menjadi ruang untuk belajar, berkarya, dan mandiri melalui program Pembinaan Kemandirian.
Berbagai produk hasil pembinaan dipamerkan dan diproduksi secara berkelanjutan di dalam lapas. Mulai dari kerajinan tangan, meubel, hingga produk kreatif lainnya. Seluruh proses dilakukan dengan pendampingan petugas dan instruktur profesional agar keterampilan yang didapat benar-benar siap pakai saat kembali ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Manado, Krisman Ziliwu, menegaskan program ini adalah wujud nyata fungsi pemasyarakatan yang berorientasi pada pembinaan dan pemberdayaan.
“Pembinaan kemandirian bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani pidana. Ini adalah sarana membangun karakter, menumbuhkan rasa percaya diri, serta membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat menjadi modal untuk hidup mandiri setelah bebas,” ujar Krisman Ziliwu, Rabu (16/7/2026).
Lebih dari keterampilan teknis, kegiatan ini juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan etos kerja. Produk-produk yang dihasilkan menjadi bukti bahwa WBP memiliki potensi besar untuk berkembang jika diberikan kesempatan dan pendampingan yang tepat.
Program Pembinaan Kemandirian di Lapas Manado merupakan bagian dari komitmen Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam mewujudkan sistem pemasyarakatan yang produktif, humanis, dan berorientasi pada reintegrasi sosial.
“Kami ingin memastikan warga binaan kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, produktif, dan siap berkontribusi positif bagi lingkungan,” tambah Krisman.
Ke depan, Lapas Kelas IIA Manado akan terus berinovasi menghadirkan program pembinaan berkualitas melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya agar proses pembinaan tidak hanya bermanfaat selama di dalam lapas, tetapi juga menjadi bekal nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik. (***)






