Minahasa Utara, SatuUntukSemua.id — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Manado menggelar panen ikan nila perdana hasil binaan para klien pemasyarakatan. Kegiatan panen digelar di salah satu kolam budidaya di Kabupaten Minahasa Utara, Selasa, (05/05/2026).
Program budidaya ikan air tawar ini menjadi yang pertama kali dijalankan Bapas Manado sebagai bagian dari pembinaan kemandirian bagi klien. Sebanyak 11 ribu ekor bibit ikan nila ditebar beberapa bulan lalu, dan hasilnya cukup membanggakan. Pada panen perdana ini, total ikan nila yang berhasil dipanen mencapai 1 ton lebih.
Saat ini ada 131 orang klien di bawah bimbingan Bapas Manado yang terlibat langsung dalam program budidaya tersebut. Mereka diajarkan mulai dari persiapan kolam, pemberian pakan, perawatan, hingga teknik panen. Meski ini pengalaman pertama, para klien menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab tinggi sehingga produksi ikan nila terbilang berhasil.
Kepala Bapas Kelas I Manado, Marulye Simbolon, menyebut keberhasilan panen ini sebagai bukti bahwa pembinaan kemandirian bisa memberi dampak nyata. Budidaya ikan nila dipilih karena siklusnya relatif cepat, pasarnya jelas, dan bisa dikelola dengan modal yang tidak terlalu besar. Harapannya, keterampilan ini menjadi bekal para klien untuk kembali ke masyarakat dengan lebih produktif dan mandiri secara ekonomi.
Lebih jauh, Marulye menekankan bahwa pengelolaan budidaya ini bukan sekadar soal ekonomi. Ada nilai tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama yang ditanamkan. Ketika klien mampu merawat ribuan bibit hingga panen 1 ton, itu jadi pelajaran penting untuk mengelola rumah tangga dan hidup bermasyarakat nanti.
Hasil panen ikan nila ini langsung dijual ke pengepul dan pasar lokal. Keuntungan dari penjualan akan dilakukan sistem bagi hasil dengan 131 klien yang terlibat. Dengan begitu, para klien tidak hanya belajar budidaya, tapi juga merasakan langsung hasil kerja keras mereka.
“Ini panen perdana budidaya ikan nila binaan klien Bapas Manado dan puji Tuhan berhasil. Dari 11 ribu bibit, torang panen 1 ton lebih. Torang harap klien tetap semangat kelola budidaya ini ke depan,” kata Simbolon.
Menurut Simbolon, budidaya ikan air tawar ini merupaka bentuk tanggung jawab para klien.
“Kalau mereka bisa tanggung jawab urus ikan dari kecil sampai panen, itu jadi modal buat mereka nanti dalam rumah tangga dan di tengah masyarakat. Jangan lihat status mereka sebagai klien, tapi lihat semangat mereka untuk berubah. Hasil jualnya torang bagi hasil dengan klien. Biar mereka rasa, kerja keras itu ada hasilnya,” tambah Simbolon.
Panen 1 ton ikan nila oleh Bapas Manado menandai babak baru pembinaan klien pemasyarakatan di Sulut. Budidaya ini membuktikan bahwa kesempatan kedua bisa tumbuh dari kolam air tawar. Dari 11 ribu bibit, lahir bukan hanya ikan, tapi juga harapan, tanggung jawab, dan kemandirian.
Ke depan, Bapas Manado berkomitmen memperluas program serupa agar lebih banyak klien punya keterampilan saat kembali ke masyarakat. Karena sejatinya, pembinaan bukan soal mengawasi, tapi soal menyiapkan mereka untuk hidup lebih baik. Dari Minahasa Utara, 131 klien Bapas Manado membuktikan: mereka siap menebar manfaat, bukan masalah. (***)






