Jakarta, SatuUntukSemua.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih terjaga stabil meski dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.
Penilaian itu disampaikan berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 26 Agustus 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan penguatan paling terlihat terjadi di pasar modal domestik sepanjang Agustus 2026.
“Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.525,48 atau menguat 4,64 persen secara month to month (mtm). Secara year to date (ytd) memang masih terkoreksi 24,53 persen, namun resiliensi dan likuiditas pasar secara umum masih terjaga,” ujar Friderica dalam keterangan resmi, Rabu (9/9/2026).
Penguatan pasar ditopang berlanjutnya aliran modal asing. Pada Agustus 2026 investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,19 triliun. Angka itu lebih rendah dibandingkan Juli 2026 yang mencapai Rp1,62 triliun.
Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread pasar saham menyempit menjadi 1,17 persen dari sebelumnya 1,33 persen pada Juli 2026. Sementara rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) naik menjadi Rp15,86 triliun, dibandingkan Rp14,31 triliun pada bulan sebelumnya.
Pasar Obligasi dan SBN Masih Diminati Asing
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir Agustus 2026 berada di level 440,04. Posisi itu naik 2,23 persen secara mtm dan hanya terkoreksi tipis 0,18 persen secara ytd.
Rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat 26,48 basis poin secara mtm. Minat investor asing terhadap SBN juga tetap positif dengan mencatatkan net buy Rp15,35 triliun. Realisasi itu meningkat signifikan dibandingkan Juli 2026 sebesar Rp6,79 triliun.
Adapun pasar obligasi korporasi mencatat net sell tipis sebesar Rp0,07 triliun pada Agustus 2026. Kinerjanya membaik dibandingkan net sell Rp0,26 triliun pada Juli.
Industri Pengelolaan Investasi dan ETF Emas
Kinerja industri pengelolaan investasi dinilai tetap terjaga. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.013,03 triliun atau tumbuh 0,03 persen secara mtm, meski secara ytd masih turun 2,85 persen.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp652,88 triliun, naik 0,05 persen secara mtm dan terkoreksi 3,32 persen secara ytd. Pada periode yang sama, investor reksa dana melakukan net redemption sebesar Rp8,50 triliun.
OJK juga mencatat perkembangan baru pada instrumen investasi. Sejak Exchange Traded Fund (ETF) Emas diluncurkan pada 10 Agustus 2026, hingga 31 Agustus 2026 telah diterbitkan tujuh produk ETF Emas oleh tujuh Manajer Investasi. Total dana kelolaan instrumen tersebut mencapai Rp90,39 miliar.
Friderica menegaskan, dengan indikator yang masih positif, OJK akan terus memantau perkembangan global untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor terhadap sektor jasa keuangan nasional. (***)






