Minsel, SatuUntukSemua.id – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Amurang kembali membuktikan komitmennya mendukung program ketahanan pangan nasional. Sabtu (06/06/2026), lapas memulai kegiatan penanaman jagung dan cabai di lahan produktif lingkungan lapas sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan.
Inisiatif ini merupakan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto pada pilar swasembada pangan dan sejalan dengan program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong setiap UPT Pemasyarakatan menjadi unit produktif dan mandiri.
Kepala Lapas Amurang Eduard Kaligis mengatakan, pembinaan di dalam lapas tidak bisa lagi berorientasi sempit pada aspek pemidanaan semata. Pembinaan harus diarahkan untuk mempersiapkan warga binaan memiliki keterampilan dan mentalitas kerja saat kembali ke masyarakat.
“Penanaman jagung dan cabai ini adalah wujud nyata dukungan Lapas Amurang terhadap program ketahanan pangan pemerintah. Kami ingin memastikan setiap warga binaan memiliki keterampilan bercocok tanam yang bisa jadi bekal produktif ketika bebas nanti,” ujarnya.
Lahan yang dimanfaatkan merupakan lahan milik Lapas Amurang. Dengan konsep pemanfaatan lahan tidur menjadi lahan produktif, Lapas Amurang ingin menunjukkan setiap jengkal tanah memiliki nilai ekonomi jika dikelola serius dan disiplin.
Proses budidaya dilakukan langsung oleh warga binaan di bawah bimbingan dan pengawasan petugas. Bibit jagung dan cabai yang dipilih merupakan varietas unggul agar hasil panen optimal. Lapas juga menggandeng penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Minsel untuk memastikan teknik tanam, pemupukan, dan perawatan sesuai standar agrikultur modern.
Melalui program ini, Lapas Amurang menanamkan tiga nilai utama yaitu kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab. Targetnya mencetak sumber daya manusia unggul yang siap berdaya saing. Ke depan, program ketahanan pangan di Lapas Amurang akan dikembangkan lagi dengan budidaya sayuran hidroponik dan kolam perikanan. Hasilnya diharapkan dapat menunjang kebutuhan dapur lapas serta dipasarkan ke masyarakat.
Eduard menegaskan visinya mengubah stigma negatif tentang lapas menjadi ruang transformasi yang melahirkan pribadi-pribadi tangguh dan produktif.
“Kami ingin Lapas Amurang menjadi laboratorium produktivitas dan sekolah kehidupan. Dari lahan ini tumbuh jagung, dari proses ini lahir manusia-manusia baru yang mandiri,” pungkasnya. (***)






