Ketika Kinerja Tak Otomatis Jadi Pilihan, Steven Malonda Soroti Survei Indikator

Kolase foto Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dengan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.

SatuUntukSemua.id, Manado – Hasil survei Indikator Politik Indonesia periode 14 sampai 24 Juli 2026 menyajikan fakta menarik sekaligus menjadi tamparan jujur bagi peta politik nasional sekarang, tingginya angka pengakuan atas kinerja belum tentu menjamin posisi teratas dalam pilihan jika pemilihan digelar hari ini.

Hal ini terlihat sangat nyata jika membandingkan dua ukuran utama dalam survei, yaitu tingkat persetujuan kinerja (Approval Rating) dan elektabilitas (Pilihan jika pemilihan digelar sekarang).

Masyarakat masih mengakui adanya upaya dan hasil kerja yang ditunjukkan, antara lain:

* Dedi Mulyadi: 72,3% – mendapat apresiasi sangat tinggi atas gaya kepemimpinan yang dekat dan hasil nyata di Jawa Barat.

* Prabowo Subianto: 54,8% – lebih dari separuh responden masih menyatakan setuju dengan arah kebijakan pemerintahan yang dijalankan.

* Sherly Tjoanda: 68,7% – angka persetujuan sangat tinggi bagi yang mengenal kinerjanya, meski belum luas dikenal secara nasional.

* Gibran Rakabuming Raka: 51,4% – masih berada di batas aman angka kelulusan.

* Ganjar Pranowo dan Mahfud MD: masing‑masing di kisaran 50% dan 52% – penilaian publik masih berimbang.

* Anies Baswedan: 48,2% – angka persetujuan sudah berada di bawah separuh responden.

Namun saat ditanya siapa yang dipilih, maka gambaran berubah cukup signifikan:

Pertama, Dedi Mulyadi menguasai posisi puncak dengan 31,4% menunjukkan bahwa apresiasi kinerja yang tinggi sepenuhnya berubah menjadi keinginan memilih.

Kedua, Prabowo Subianto turun ke posisi kedua dengan 18,8% fakta paling mencolok meski masih lebih banyak yang setuju kinerjanya daripada tidak setuju, namun jumlah yang menjadikannya pilihan utama sudah berkurang jauh.

Ketiga, Anies Baswedan berada di posisi ketiga 11,6% selisih tidak terlalu jauh dengan angka persetujuannya.

Lalu, Gibran Rakabuming Raka 5,9%, Agus Harimurti Yudhoyono 5,8%, Ganjar Pranowo 4,5% dan Sherly Tjoanda 4,1% menunjukan potensi besar belum tergarap maksimal karena keterbatasan pengenalan nama secara nasional.

Sisanya di bawah 3% dan ada sekitar 8,4% yang belum menentukan pilihan.

APA MAKNA DI BALIK ANGKA‑ANGKA INI?

Fenomena yang terjadi pada Prabowo Subianto adalah contoh nyata dari prinsip yang sering terabaikan, mengakui seseorang bekerja cukup baik itu satu hal, tapi menjadikannya pilihan utama untuk masa depan adalah hal lain.

Angka persetujuan 54,8% mengindikasikan rakyat tidak menolak apa yang sudah dikerjakan.

Akan tetapi, turunnya elektabilitas menjadi 18,8% menandakan bahwa rakyat mulai memiliki harapan lebih luas, mulai mencari alternatif, atau mulai membandingkan apa yang sudah ada dengan tawaran arah baru.

Di sisi lain, lonjakan Dedi Mulyadi menunjukkan ketika kinerja nyata berpadu dengan narasi menyentuh hati rakyat, pengakuan langsung berubah menjadi dukungan bulat.

Sementara, posisi Sherly Tjoanda membuktikan bahwa sosok dengan rekam jejak bersih dan hasil kerja nyata di daerah memiliki modal besar untuk melangkah lebih jauh jika semakin dikenal luas.

Di mana waktu Pelaksanaan pada 14 hingga 24 Juli 2026 memakai metode wawancara tatap muka pada sampel terdistribusi merata seluruh provinsi, serta margin kesalahan ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

RAKYAT MAKIN CERDAS MEMILAH

Kepada Satu Untuk Semua, Salah satu jebolan Mapala Avestaria Fisip Unsrat, Steven Malonda menyebutkan, Angka 50 persen persetujuan bukanlah tempat untuk merasa aman.

“Itu hanyalah garis batas kewaspadaan. Rakyat makin cerdas memilah, mereka menghargai masa lalu, tapi menentukan pilihan berdasarkan apa yang paling pas dengan harapan masa depan mereka,” ungkap Fungsionaris LPM Sulut tersebut, Kamis (30/7/2026).

Bicara Posisi belum menetap, Putra Kakas inipun menjelaskan, Kelompok yang belum memilih masih cukup besar, dan dinamika ke depan akan sangat bergantung bagaimana setiap sosok menjawab pertanyaan rakyat.

Apa lagi yang bisa kau tawarkan untuk lima tahun ke depan. Dedi Mulyadi mendapat apresiasi tinggi karena gaya kepemimpinannya yang turun langsung, menyentuh persoalan warga secara nyata, dan menghadirkan solusi yang terasa manfaatnya sehari‑hari.

Begitu pula, Sherly Tjoanda dinilai sangat baik karena memimpin dengan prinsip bersih, transparan, dan mengutamakan pembangunan yang merata tanpa kesan gaya lama.

“Keduanya membuktikan bahwa kinerja yang terasa langsung oleh rakyat adalah modal utama yang mengubah sekadar pengakuan menjadi dukungan yang nyata, sehingga memperkuat argumen utama berita ini,” kunci Personel AIPI Sulut ini. (red2)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *