Sarinah: Kebanggaan, Kesetaraan Gender, dan Semangat Perempuan Untuk Berjuang, Berpikir Kritis, serta Mandiri

Oleh: Deon Yohanes Wonggo, Materi dibawakan saat PPAB Komisariat Polimdo yang digelar Pengurus DPC GMNI Manado 2025-2027 Gerbong Wisma Trisakti

Sarinah adalah ideologi dan gerakan kader perempuan dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berlandaskan pada pemikiran Sukarno tentang emansipasi, berfokus melawan penindasan berbasis gender, kelas, dan budaya.

Point penting mengenai Kesarinahan

Tujuan Utama: Melawan penindasan terhadap perempuan, meningkatkan kesadaran kritis, serta mendorong peran aktif perempuan sebagai subjek perjuangan, bukan sekadar objek pembangunan.

Akar Sejarah: Diambil dari nama Sarinah, pengasuh kecil Soekarno yang mencerminkan cinta kasih tulus, ketangguhan, dan keberanian.

Nilai Utama: Kesadaran kelas & gender, semangat egaliter (setara), kolektif, intelektual, dan praksis.

Panggilan Kader: Di GMNI, seluruh kader perempuan dipanggil “Sarinah” tanpa memandang usia atau senioritas, sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan semangat perjuangan tersebut.

Bentuk Gerakan: Melalui diskusi kritis, pendidikan parenting marhaenis, advokasi, dan pelatihan kepemimpinan untuk menciptakan perempuan yang militan.

Kesarinahan menekankan bahwa perempuan harus berjuang bersama laki-laki untuk membangun masyarakat yang adil dan merdeka, dengan menetapkan tujuan hidup sendiri dan menghargai sesama.

Istilah ini terinspirasi dari Sarinah, pengasuh Sukarno, yang disimbolkan sebagai sosok perempuan tangguh, mandiri, dan berjuang untuk keadilan rakyat.

Sejarah Sarinah

Sarinah di GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) adalah sebutan hormat untuk kader perempuan, terinspirasi dari Mbok Sarinah, pengasuh Soekarno yang mengajarkan cinta kasih dan perjuangan rakyat kecil.

Konsep ini berakar dari pemikiran Soekarno tentang emansipasi perempuan, diresmikan sebagai wadah perjuangan, dan disahkan menjadi “Korps Sarinah” di struktur AD/ART GMNI.

Point penting sejarah dan makna Sarinah di GMNI

Inspirasi Nama: Diambil dari nama Mbok Sarinah, pengasuh Soekarno kecil yang sangat berpengaruh, sosok penuh kasih sayang dan simbol perjuangan kaum Marhaen.

Filosofi Perjuangan: Panggilan “Sarinah” melambangkan kebanggaan, kesetaraan gender, dan semangat perempuan untuk berjuang, berpikir kritis, serta mandiri, tanpa memandang senioritas (usia).

Wadah Resmi: Awalnya muncul dari kebutuhan menampung perempuan di GMNI. Pimpinan pertamanya adalah Wahyuning Widayati.

Korps Sarinah: Dalam AD/ART GMNI, sebutan ini berkembang menjadi Korps Sarinah (sebelumnya kelompok keputrian/laskar), menjadi wadah kader perempuan untuk berdiskusi, belajar politik, dan menyuarakan isu-isu perempuan.

Konsep “Sarinah” Bung Karno: Selain nama orang, Sarinah di GMNI merujuk pada konsep buku Sarinah karya Bung Karno, yang menekankan pentingnya peran perempuan dalam revolusi dan pembangunan bangsa.

Perbedaan Sarinah dengan Kartini

Dalam konteks pemikiran Soekarno dan gerakan perempuan di Indonesia, perbedaan antara Sarinah dan Kartini terletak pada latar belakang kelas sosial, metode perjuangan, dan fokus sasarannya.

Latar Belakang: Kartini adalah bangsawan (Gentry class/Ningrat), sedangkan Sarinah Rakyat kecil atau jelata (Marhaen).

Fokus Utama: Kartini berpendidikan, mempunyai kebebasan berpikir, dan emansipasi dari adat yang mengekang. Sarinah merupakan simbol kesetaraan dalam perjuangan revolusi, kesejahteraan sosial serta ekonomi rakyat.

Bentuk Perjuangan: Kartini lewat korespondensi dan diplomasi gagasan, sedangkan Sarinah Lewat aksi nyata di lapangan serta pelibatan dalam struktur perjuangan negara.

Simbolisme: Kartini ialah simbol kebangkitan perempuan pribumi, sedangkan Sarinah adalah lambang cinta kasih dan kekuatan perempuan sebagai pilar negara.

Perbedaan Mendalam Berdasarkan Pemikiran Soekarno

1. Emansipasi Versus Revolusi

Soekarno dalam bukunya Sarinah memuji Kartini sebagai pembuka jalan, namun ia merasa emansipasi ala Kartini masih cenderung berfokus pada hak-hak individu perempuan seperti sekolah dan memilih jodoh.

Bagi Soekarno, “Sarinah” harus melampaui itu dengan terlibat langsung dalam revolusi sosialisme untuk kesejahteraan seluruh rakyat, bukan hanya kaumnya saja.

2. Identitas Kelas

Kartini adalah potret perempuan yang melawan kungkungan tradisi feodal dari dalam tembok istana.

Sementara Sarinah adalah potret perempuan desa sederhana yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki kearifan lokal dan semangat pengabdian yang murni kepada sesama.

3. Wadah Pergerakan

Kartini lebih sering dirayakan sebagai tokoh inspirasi sejarah secara umum.

Di sisi lain, “Sarinah” telah diinstitusikan menjadi identitas kader perempuan dalam organisasi seperti GMNI yang menekankan pada pendidikan politik dan keberpihakan pada kaum miskin.

Refrensi Bacaan

Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia, karya Soekarno.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *