Makan Bergizi Gratis Berikan Banyak Manfaat Bagi Rakyat Indonesia

Oleh: Dwi Rangga Harsono, Bendahara IKA GMNI Manado

SATUUNTUKSEMUA.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto sejujurnya memberikan berbagai manfaat bagi rakyat Indonesia, baik dari sisi kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga sosial budaya.

Terlepas beberapa realitas lapangan notabene ada juga belum sesuai ekspektasi, sampai pada kurang teliti nya dalam soal penyajian makanan sehingga ketika di konsumsi terjadi keracunan dan sebagainya.

Lalu kalau kita meneropong berdasarkan Kacamata Marhaenisme terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dilihat dari beberapa aspek penting, yakni:

1. Esensi Marhaenisme yang Relevan

Marhaenisme adalah ideologi yang dikembangkan oleh Bung Karno, berfokus pada pemberdayaan kaum kecil (marhaen) tanpa membenci yang besar, serta menentang ketidakadilan struktural akibat sistem kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme.

Kaum marhaen memiliki faktor produksi sendiri namun tetap kesusahan karena sistem yang tidak menguntungkan, sehingga membutuhkan “keistimewaan” tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengurangi ketimpangan.

2. Perspektif terhadap Program MBG

– Pemenuhan Kebutuhan Dasar dan Keadilan Sosial: MBG yang bertujuan memberikan makanan bergizi bagi anak-anak di daerah kurang mampu sesuai dengan prinsip marhaenisme yang mengutamakan kesejahteraan kaum kecil.

Hal ini dianggap sebagai bentuk koreksi terhadap sistem yang sebelumnya mungkin tidak menjamin akses pangan yang cukup dan bergizi bagi seluruh rakyat, terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu.

– Pemberdayaan Ekonomi Rakyat: Marhaenisme juga menekankan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan kolektif.

Pelaksanaan MBG yang melibatkan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur MBG lokal, serta kemitraan dengan pelaku usaha kecil sebagai pemasok bahan baku, dapat dianggap sebagai upaya untuk menyerap tenaga kerja dan menghidupkan perputaran ekonomi di daerah.

Itu sejalan dengan gagasan marhaenisme tentang penguatan ekonomi rakyat dan perlindungan terhadap usaha kecil.

3. Tantangan dan Harapan dari Perspektif Marhaenisme

– Tantangan: Kasus keracunan makanan dan masalah pengelolaan yang muncul dalam program MBG dapat dilihat sebagai akibat dari belum terwujudnya implementasi yang sesuai dengan prinsip marhaenisme secara murni.

Misalnya, kurangnya perhatian pada kualitas dan keamanan pangan yang diberikan kepada kaum marhaen, serta kemungkinan adanya kepentingan yang tidak sejalan dengan tujuan utama program.

– Harapan: Dari sisi marhaenisme, program MBG diharapkan dapat terus diperbaiki agar benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi kaum kecil.

Hal tersebut meliputi peningkatan pengawasan, standarisasi produksi dan distribusi makanan, serta memastikan bahwa program ini benar-benar menjadi sarana untuk memberdayakan ekonomi rakyat dan mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi.

* Kesimpulan

– Pemberdayaan Kaum Kecil: MBG yang menggunakan bahan baku lokal dari petani, peternak, nelayan, dan UMKM sesuai dengan prinsip kemandirian ekonomi marhaenisme, yang mendorong rakyat kecil mengelola sumber daya sendiri dan tidak bergantung pada modal besar.

Ini juga dapat membantu mengurangi eksploitasi yang sering terjadi dalam sistem kapitalis, serta meningkatkan kesejahteraan mereka.

– Keadilan Sosial dan Ekonomi: Program ini menjangkau kelompok rentan seperti anak sekolah, balita, ibu hamil dan menyusui, yang merupakan bagian dari kaum kecil yang sering mengalami ketidakadilan dalam akses pangan bergizi.

Dengan menyediakan makanan gratis yang memenuhi standar gizi, MBG berusaha merata-kan kesempatan mendapatkan kesehatan dan perkembangan yang baik, sesuai dengan prinsip kesetaraan dalam marhaenisme.

– Gotong Royong dan Partisipasi Masyarakat: Pelaksanaan MBG yang melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, komunitas, dan ahli gizi lokal mencerminkan nilai gotong royong.

Lebih lanjut, keterlibatan masyarakat dalam mendukung dan memantau program ini juga sejalan dengan konsep demokrasi kerakyatan marhaenisme, di mana kekuasaan dan perjuangan untuk kesejahteraan berada di tangan rakyat.

– Nasionalisme dan Ketahanan Nasional: MBG yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat ketahanan pangan lokal sesuai dengan semangat nasionalisme marhaenisme.

Dengan memiliki generasi yang sehat dan cerdas serta ekonomi lokal yang kuat, Indonesia dapat mencapai kemandirian dan ketahanan nasional yang diidamkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *