MANADO, SatuUntukSemua.id — Enam nama telah resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Rektor Universitas Sam Ratulangi periode 2026–2030.
Keenam figur ini membawa latar belakang beragam, antara lain; tiga berlatar kedokteran dan kesehatan, dua praktisi hukum, serta satu ahli perikanan dan kelautan.
Keragaman ini menjadikan kontestasi Pilrek UNSRAT kali ini salah satu yang paling terbuka dan menarik dalam beberapa periode terakhir.
Berdasarkan analisis berbasis model probabilitas hipotetis memakai Simulasi Monte Carlo yang dilakukan setelah mengetahui hanya enam bakal calon yang mendaftarkan diri, persaingan belum menunjukkan dominasi satu nama secara mutlak.
Roike Iwan Montolalu sementara ini menempati posisi terdepan dengan estimasi peluang kemenangan sebesar 28,7 persen, Ia diikuti oleh Grace Kandou dengan 24,9 persen, Flora Kalalo,17,8 persen, Rocky Wilar, 14,2 persen, Theresia Kaunang, 7,5 persen, serta Youla Olva Aguw 6,9 persen.
Perlu ditegaskan bahwa angka‑angka ini bukan hasil polling resmi Senat UNSRAT, maupun prediksi pasti kemenangan.
Angka‑angka ini dibangun dari penilaian atas rekam jejak, pengalaman manajerial, potensi dukungan di Senat, kesesuaian dengan pertimbangan Kementerian, serta kejelasan visi dan misi masing‑masing kandidat.
Mekanisme Penentu Kemenangan: Senat dan Kementerian
Pilrek UNSRAT menggunakan mekanisme dua tahap yang menentukan siapa yang akan memimpin kampus tertua di Sulawesi Utara ini. Tahap pertama, 72 anggota Senat Universitas memberikan suara dengan bobot sebesar 65 persen.
Diperlukan suara mayoritas mutlak minimal 37 suara untuk langsung menentukan pemenang pada putaran pertama.
Jika belum ada yang mencapai angka tersebut, akan dilakukan putaran kedua bagi dua kandidat dengan suara terbanyak.
Selanjutnya, tiga nama terbaik hasil pemilihan Senat akan diajukan ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Di sinilah letak kunci kedua, pertimbangan Kementerian memiliki bobot 35 persen, setara dengan sekitar 39 suara anggota Senat.
Artinya, posisi teratas versi Senat belum tentu menjadi pilihan akhir, jika Kementerian menilai nama lain lebih sesuai dengan agenda transformasi pendidikan tinggi nasional.
Dinamika Persaingan: Keunggulan dan Tantangan Masing‑Masing
Roike Montolalu diunggulkan berkat pengalaman panjangnya di jajaran rektorat sebagai Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum.
Pemahamannya terhadap tata kelola Badan Layanan Umum (BLU), pengelolaan anggaran, serta administrasi kampus menjadi modal yang kuat di mata penilai.
Sebagai pejabat yang sedang menjabat, ia menghadapi tantangan untuk membuktikan, bahwa kepemimpinannya akan membawa perubahan nyata, bukan sekadar kelanjutan status quo.
Sementara, Grace Kandou menonjol dari sisi legitimasi akademik sebagai satu‑satunya Guru Besar dalam bursa.
Visi transformasi akademiknya kuat, namun ia perlu menjelaskan secara tuntas polemik yang sempat menyertai namanya agar kepercayaan civitas akademika tetap utuh.
Flora Kalalo muncul sebagai alternatif kuat dengan pengalaman mantan Wakil Rektor II yang memahami birokrasi kampus secara menyeluruh.
Latar belakang hukumnya menawarkan ketegasan aturan dan kepatuhan. Jika terjadi kebuntuan antara dua kandidat teratas, namanya berpotensi naik sebagai pilihan konsensus.
Rocky Wilar dikenal dekat dengan dunia kemahasiswaan dan menawarkan wajah baru yang dinamis.
Meski pengalaman manajerial skala universitas belum seluas tiga nama di atas, kehadirannya menyegarkan peta persaingan.
Adapun Theresia Kaunang dan Youla Aguw, meski belum memiliki basis dukungan seluas empat nama lainnya, kehadiran mereka memperkaya spektrum pilihan.
Suara yang mereka kumpulkan menjelang hari‑H bisa menjadi penentu pergeseran dukungan antar kandidat utama.
Masih Terbuka Hingga Hari‑H
Inti dari dinamika Pilrek UNSRAT 2026 ini adalah, tidak ada yang aman sampai Kementerian menetapkan satu nama.
Selisih antara tiga kandidat teratas kurang dari 11 poin persentase, yakni Sekitar 46,5 persen peluang kemenangan masih terbuka dan bisa bergeser tergantung bagaimana masing‑masing kandidat mampu meyakinkan anggota Senat, serta memenuhi kriteria penilaian Kementerian.
Siapa yang mampu menyatukan dukungan lintas fakultas di Senat sekaligus menawarkan program kerja yang selaras dengan kebijakan nasional, dialah yang akan memegang kunci kemenangan.
Proses demokratisasi ini diharapkan berjalan transparan, objektif, dan melahirkan kepemimpinan yang membawa UNSRAT semakin unggul, berdaya saing, dan berintegritas.
Pandangan Alumni Unsrat Terkait Kontestasi Pilrek Unsrat 2026
Tiara Piri, S.IK, M.TKP, melihat, semakin mampu seorang kandidat menyatukan dukungan lintas fakultas di Senat Universitas, sekaligus menawarkan program kerja yang selaras dengan agenda transformasi pendidikan tinggi nasional, semakin besar peluangnya untuk terpilih sebagai Rektor UNSRAT Kedepan.
Pimpinan Umum Ketiga Ormawa Pers Mahasiswa Fisip Unsrat Acta Diurna ini kemudian coba menelaah, Semakin tuntas dan transparan seorang kandidat menjelaskan polemik atau isu yang menyertai rekam jejaknya, semakin kuat kepercayaan civitas akademika dan posisinya dalam persaingan.
“Semakin besar kemampuan seorang kandidat menawarkan visi transformasi akademik yang meyakinkan seluruh fakultas, semakin tinggi peluangnya mengungguli kandidat yang hanya unggul pada pengalaman manajerial birokratis semata,” ulas Yaya, sapaan akrabnya, juga merupakan jebolan DPK GMNI Fisip Unsrat dikenal dengan sebutan Swaradika.
Matthew Liling, SH, MH, memandang, Semakin terbuka persaingan di tiga besar, semakin besar peran suara kandidat peringkat bawah sebagai penentu pergeseran koalisi menjelang pemilihan di Senat Universitas.
“Semakin dekat posisi seorang kandidat dengan agenda strategis nasional di bidang pendidikan tinggi, khususnya kepada Pimpinan tertinggi Republik ini, maka semakin besar kemungkinan Kementerian memilihnya, meskipun kalau bukan peringkat pertama hasil pemilihan Senat,” ucap yang saat ini menjabat Ketua DPC GMNI Manado Periode 2025-2027 dari Gerbong Wisma Trisakti tersebut mengilustrasikan. (Deon Wonggo)
