Mengapa jiwa tulus sering dihantui rasa bersalah padahal tak berbuat salah?

Penulis (depan) bersama jurnalis Satu Untuk Semua (Singlet Biru Langit) dan Wartawan Tribun Manado (Kaos biru).

Oleh: Deon Yohanes Wonggo

SERING kali jiwa tulus memang banyak dihantui rasa bersalah meskipun itu seharusnya anomali, karena sejatinya pribadi tersebut sama sekali tidak berbuat salah.

Pertama, Ketulusan adalah pusaka tua

Dia diwariskan kepada jiwa-jiwa yang kuat, bukan pada yang ingin menang. Pointnya adalah ketenangan jiwa, wujud kasih, nilai pemberian, pelindung diri dan warisan orang tua.

Kedua, Yang tulus sering memikul dosa bukan miliknya

Karena dia memilih sunyi agar dunia semakin tak terluka. Lebih lanjut berikut beberapa kondimen yang menyusun hal itu, Pengorbanan tanpa pamrih, tanggung jawab moral bukan hukum serta ujian keikhlasan.

Ketiga, Laut tak pernah meminta maaf kepada badai dan ombak tak pernah bersalah saat menghantam karang

Jika hatimu bersih jangan kau nodai dengan rasa bersalah. Berikut beberapa refleksi relevan dengan keadaan, Eksistensi yang tak terelakkan, Melampaui benar dan salah hingga Keteguhan dalam kekacauan.

Ketulusan tanpa batas adalah kehancuran diri, berbuat baiklah tanpa mengorbankan martabat jiwamu. Sebagaimana konteks yang dibicarakan antara lain, Pembelaan diri, Luka disembunyikan sampai pada Cinta atau Pengabdian sunyi.

Pos terkait