SATUUNTUKSEMUA.ID – Pantai Rap-Rap Desa Eco Wisata Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Provinsi Sulawesi Utara menyimpan banyak potensi jika mampu digali maksimal dengan baik sebagai destinasi wisata.
Karena andai bisa di maksimalkan, justru akan mendatangkan keuntungan bagi warga lokal (Tinggal Sekitar Situ), hingga bakal meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Manado.
POTENSI
1. Potensi Desa Eco Wisata Pantai Rap-Rap dari sudut pandang Materialisme Historis
– Sumber Daya Alam
Pantai ini memiliki keindahan alam seperti pasir putih, fenomena alam sore hari, serta ekosistem mangrove yang menjadi modal dasar bagi pengembangan ekowisata.
Lebih lanjut, Sebagai akses menuju Pulau Bunaken yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, lokasinya yang strategis juga menjadi faktor produksi penting.
– Modal Manusia
Anak muda lokal yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di industri pariwisata telah berperan aktif dalam mengembangkan dan mengelola pantai ini, seperti melalui kerja bakti dan upaya promosi.
Setelah itu, masyarakat sekitar juga dapat menjadi sumber daya manusia yang penting dengan mendapatkan pelatihan sebagai pemandu wisata, pekerja di sektor akomodasi dan makanan, serta dalam pengelolaan lingkungan.
– Modal Fisik
Pembangunan dermaga yang didukung oleh pihak swasta (BSG) telah meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan wisatawan, yang merupakan investasi dalam modal fisik untuk pengembangan ekowisata.
Meneropong kedepan, Fasilitas yang ada seperti kamar mandi umum juga menjadi dukungan bagi aktivitas wisata.
– Modal Keuangan
Investasi dari sektor swasta dan dukungan pemerintah daerah menjadi modal keuangan yang penting untuk pengembangan infrastruktur dan promosi ekowisata Pantai Rap-Rap Tongkaina.
Selain itu, pendapatan dari pariwisata juga dapat digunakan untuk pengembangan lebih lanjut dan pelestarian lingkungan.
2. Potensi Desa Eco Wisata Pantai Rap-Rap dari Sudut Pandang Materialisme Dialektis
* Potensi Dasar (Basis Materi)
– Sumber Daya Alam
Pantai ini memiliki keindahan alam seperti pemandangan matahari terbenam, ekosistem mangrove yang kaya, akses mudah ke Pulau Bunaken, dan fasilitas pendukung aktivitas seperti snorkeling, kayaking, dan wisata mangrove.
Perlu digarisbawahi, Ini menjadi basis materi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik ekowisata.
– Kondisi Sosial Ekonomi Lokal
Masyarakat sekitar sebagian besar merupakan nelayan, dan ada gerakan pemuda lokal yang aktif dalam memulihkan dan mengelola pantai, seperti kerja bakti pembersihan dan pengorganisasian akses transportasi laut.
Hal tersebut menunjukkan adanya kapasitas sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
* Proses Dialektis (Perubahan dan Interaksi)
– Kontradiksi Pertumbuhan dan Kelestarian
Pengembangan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan lokal dan menciptakan lapangan kerja, namun juga berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan seperti polusi, kerusakan ekosistem mangrove, dan tekanan pada sumber daya alam jika tidak dikelola dengan baik.
Perlu ada penegasan, bahwa Ini adalah kontradiksi utama yang perlu diatasi guna meningkatkan potensi peningkatan PAD dari sektor pariwisata Pantai Rap-Rap tongkaina.
– Interaksi Antara Struktur dan Agen
Struktur ekonomi dan kebijakan pariwisata yang ada dapat memengaruhi cara pengembangan eco wisata di Pantai Rap-Rap, namun agen lokal seperti pemuda dan masyarakat juga dapat berperan dalam mengubah arah pengembangan agar lebih berkelanjutan.
Misalnya, upaya mereka dalam membersihkan pantai dan mengelola area parkir 24 jam menunjukkan bagaimana agen lokal dapat mengubah kondisi objektif.
TANTANGAN BERDASARKAN KACAMATA MATERIALISME HISTORIS
* Dinamika Kapitalisme dalam Pengelolaan
– Akumulasi Kapital dan Akomodifikasi
Pariwisata diatur secara kapitalis untuk memaksimalkan keuntungan, seperti pembangunan fasilitas wisata yang mungkin mengubah fungsi awal pantai dan sekitarnya menjadi objek konsumsi.
Misalnya, pembangunan dermaga yang lebih besar dan fasilitas pendukung bisa menjadi sarana untuk menarik lebih banyak wisatawan serta investor, namun juga berpotensi mengorbankan kelestarian lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
– Persaingan Antara Pelaku Ekonomi
Sarana produksi kecil berbasis keluarga seperti usaha warung makan atau penyewaan perlengkapan wisata lokal mungkin berhadapan dengan perusahaan besar yang memiliki lebih banyak sumber daya.
Hal inipun bisa menyebabkan ketidaksetaraan dalam memperoleh keuntungan dari eco wisata dan berpotensi menggeser peran masyarakat lokal sebagai pelaku utama.
* Peran Negara dan Kebijakan
– Negara Sebagai Mediator Akumulasi
Negara berperan sebagai koordinator utama pembangunan pariwisata, menyediakan infrastruktur dan promosi.
Tapi, kebijakan yang dibuat mungkin lebih condong untuk menarik investor dan wisatawan ketimbang memprioritaskan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal secara menyeluruh.
Contohnya, dalam kasus revitalisasi dermaga Pantai Rap-Rap, meskipun bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan ekonomi lokal, perlu dipastikan bahwa kebijakan terkait lingkungan juga dijalankan dengan ketat.
– Kurangnya Perlindungan yang Optimal
Meskipun ada kesadaran akan pentingnya pariwisata berkelanjutan, kebijakan proteksi lingkungan dalam pembangunan pariwisata belum selalu optimal.
Perlu diketahui, Ini bisa menyebabkan kerusakan ekosistem pantai seperti terumbu karang dan mangrove akibat aktivitas wisata yang tidak terkendali atau pembangunan yang tidak sesuai dengan prinsip kelestarian.
* Dampak pada Masyarakat Lokal dan Lingkungan
– Peminggiran Masyarakat Lokal
Dalam beberapa kasus pengembangan pariwisata di kawasan pesisir, masyarakat lokal tidak dijadikan sebagai pelaku utama, sehingga mereka bisa terpinggirkan dari sumber daya ekonomi yang ada dan mengalami perubahan cara hidup yang tidak menguntungkan.
Di Pantai Rap-Rap, meskipun awalnya ada peran aktif anak muda lokal dalam mengembangkan wisata, perlu dipastikan bahwa manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat lokal.
– Kerusakan Lingkungan
Peningkatan jumlah wisatawan bisa menyebabkan peningkatan sampah, kerusakan ekosistem, dan gangguan terhadap kehidupan laut.
Selain itu, aktivitas ekonomi lain seperti perikanan yang tidak berkelanjutan juga bisa berdampak negatif pada lingkungan pantai dan mengganggu kelangsungan eco wisata.
TANTANGAN BERDASARKAN KACAMATA MATERIALISME DIALEKTIS
* Konflik Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan
– Eksploitasi Sumber Daya
Pengembangan pariwisata yang bertujuan meningkatkan pendapatan ekonomi dapat mendorong eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam seperti mangrove, terumbu karang, dan ikan.
Misalnya, aktivitas wisata seperti snorkeling dan kayaking jika tidak dikelola dengan baik dapat merusak ekosistem bawah laut.
Kemudian permintaan akan fasilitas akomodasi dan makanan dapat meningkatkan tekanan pada sumber daya lokal seperti air dan kayu.
– Perubahan Struktur Ekonomi
Pertumbuhan ekowisata dapat mengubah struktur ekonomi lokal, dari ekonomi yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan perikanan menjadi lebih terfokus pada pariwisata.
Perlu dipertegas, hal ini dapat menyebabkan beberapa kelompok masyarakat kehilangan mata pencaharian tradisional mereka, terutama jika mereka tidak dapat berpartisipasi dalam industri pariwisata.
* Kontestasi Ruang dan Sumber Daya
– Penguasaan Lahan
Pengembangan infrastruktur ekowisata seperti dermaga, hotel, dan restoran dapat menyebabkan persaingan atas lahan dan wilayah pesisir. Dalam beberapa kasus, masyarakat lokal mungkin tergusur dari tanah mereka atau kehilangan akses ke sumber daya alam yang penting bagi kehidupan mereka.
Misalnya, revitalisasi dermaga Pantai Rap-Rap yang dilakukan dengan dukungan dari pihak swasta dan pemerintah dapat mengubah penggunaan lahan di sekitar pantai dan berdampak pada aktivitas nelayan lokal.
– Pembagian Keuntungan
Keuntungan yang diperoleh dari ekowisata tidak selalu didistribusikan secara merata di antara semua pihak yang terlibat.
Perusahaan besar dan operator tur seringkali mendapatkan sebagian besar keuntungan, sementara masyarakat lokal hanya mendapatkan manfaat yang terbatas.
Sebagai informasi, Hal ini dapat memperdalam kesenjangan sosial dan ekonomi di antara kelompok masyarakat yang berbeda.
* Dinamika Sosial dan Budaya
– Komersialisasi Budaya
Pengembangan ekowisata dapat menyebabkan komersialisasi budaya lokal, di mana tradisi dan nilai-nilai budaya yang ada diubah atau dipasarkan untuk memenuhi selera wisatawan.
Hal ini dapat mengikis identitas budaya masyarakat lokal dan menyebabkan hilangnya nilai-nilai yang penting bagi kehidupan mereka.
– Perubahan Nilai dan Sikap
Kedatangan wisatawan dari berbagai daerah dan negara dapat membawa perubahan dalam nilai dan sikap masyarakat lokal.
Beberapa orang mungkin mulai mengadopsi gaya hidup dan nilai-nilai yang lebih individualistik dan materialistis, yang dapat berdampak pada struktur sosial dan hubungan antar masyarakat.
* Tantangan dalam Pengelolaan dan Tata Kelola
– Kurangnya Koordinasi Antar Stakeholder
Pengelolaan ekowisata yang efektif membutuhkan koordinasi yang baik antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, perusahaan swasta, dan organisasi lingkungan.
Tetapi, seringkali terdapat kurangnya koordinasi dan komunikasi antara pihak-pihak ini, yang dapat menyebabkan konflik dan kesulitan dalam mengambil keputusan yang menguntungkan semua pihak.
– Kurangnya Kapasitas dan Pengetahuan
Masyarakat lokal dan pengelola ekowisata seringkali memiliki kapasitas dan pengetahuan yang terbatas dalam mengelola dan mengembangkan ekowisata secara berkelanjutan.
Hal inipun dapat menyebabkan penggunaan praktik-praktik yang tidak ramah lingkungan dan tidak berkelanjutan, serta kesulitan dalam mengatasi tantangan yang muncul seiring dengan perkembangan pariwisata.
