MANADO, SatuUntukSemua.id – Anugerah A. Golly resmi terpilih sebagai Ketua Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Politeknik Negeri Manado (Polimdo).
Terpilihnya Anugerah Golly secara aklamasi menjadi momentum baru bagi perjalanan organisasi mahasiswa berhaluan nasionalis tersebut, sekaligus menandai hadirnya identitas baru komisariat dengan nama AMPERA.
Nama Komisariat dipilih terinspirasi dari semangat Amanat Penderitaan Rakyat, disingkat AMPERA, sebagaimana dikenal dalam perjuangan politik Bung Karno.
Pemilihan ketua komisariat tersebut dilaksanakan di Waroeng Mami, Jumat (30/10/2026).
Terpilihnya Anugerah secara aklamasi mencerminkan semangat musyawarah untuk mufakat, notabene menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan berorganisasi di GMNI.
“Momentum ini diharapkan menjadi titik awal penguatan gerakan, konsolidasi kader, serta perluasan pengaruh pemikiran Marhaenisme di lingkungan Politeknik Negeri Manado,” ujar Matthew Liling, Ketua DPC GMNI Manado Periode 2025-2027.
Perpanjangan tangan Wisma Trisakti GMNI di Kota Manado tersebut menjelaskan, Di bawah kepemimpinan definitif yang baru, Komisariat GMNI Politeknik Negeri Manado kini mengusung nama AMPERA.
Dia melanjutkan, Nama itu memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan semangat perjuangan rakyat kecil dan cita-cita mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“AMPERA merupakan akronim dari Amanat Penderitaan Rakyat, sebuah gagasan yang lekat dengan pemikiran dan perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno atau Bung Karno. Gagasan itu menempatkan penderitaan rakyat sebagai persoalan utama yang harus diperjuangkan oleh setiap kekuatan politik dan gerakan sosial yang berpihak kepada kepentingan masyarakat,” urai Mantan Ketua DPK Fakultas Hukum Unsrat ini.
Penggunaan nama AMPERA diharapkan bukan sekadar menjadi simbol atau identitas baru bagi komisariat.
Lebih dari itu, nama AMPERA diharapkan mampu menjadi pengingat bagi setiap kader mengenai tanggung jawab ideologis untuk memahami realitas sosial, memperjuangkan kepentingan rakyat, serta menghadirkan keberpihakan nyata kepada kelompok masyarakat yang tertindas.
“Dalam tradisi GMNI, Marhaenisme menjadi landasan pemikiran yang menempatkan perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan sebagai bagian penting dari gerakan mahasiswa,” ucap Matthew.
“Oleh karena itu, kehadiran AMPERA di lingkungan Politeknik Negeri Manado diharapkan dapat memperkuat karakter organisasi sebagai ruang pendidikan politik, pembentukan watak kepemimpinan, serta pengembangan kesadaran sosial mahasiswa,” lanjut Liling.
Dapat Apresiasi Alumni
Ditempat lain, Presidium Daerah IKA GMNI Sulut Periode 2025-2030 Deon Wonggo berharap kepengurusan baru Komisariat AMPERA, mampu tampil sebagai tombak perjuangan baru di lingkungan Politeknik Negeri Manado.
Ia mengingatkan, pentingnya peran komisariat sebagai ujung tombak organisasi dalam membangun kesadaran ideologis dan mengembangkan gerakan mahasiswa yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Lebih lanjut, Komisariat sebagai struktur organisasi yang bersentuhan langsung dengan kehidupan mahasiswa memiliki posisi strategis dalam proses kaderisasi.
“Melalui komisariat, nilai-nilai perjuangan GMNI dapat diperkenalkan, dipelajari, dan diwujudkan dalam tindakan nyata di lingkungan kampus maupun masyarakat,” pesan Deon.
“Karena itu, kepengurusan baru AMPERA diharapkan tidak hanya mampu menjalankan roda organisasi secara administratif, tetapi juga membangun tradisi diskusi, memperkuat pendidikan ideologi, meningkatkan kualitas kader, serta mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan sosial,” sambung Wonggo.
Lebih jauh, kepemimpinan Anugerah Golly diharapkan mampu membawa komisariat semakin mengakar di lingkungan Politeknik Negeri Manado.
Penguatan basis organisasi menjadi penting agar GMNI tidak hanya dikenal melalui nama dan simbol, tetapi juga melalui gagasan, sikap, serta kontribusi konkret bagi kehidupan kampus dan masyarakat.
Upaya membumikan ajaran Marhaenisme juga membutuhkan konsistensi dalam proses kaderisasi.
Para kader dituntut untuk tidak berhenti pada pemahaman teoritis, melainkan mampu menghubungkan pemikiran ideologis dengan realitas kehidupan rakyat.
Dengan demikian, semangat perjuangan diwariskan Bung Karno dapat terus relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Terpilihnya Anugerah secara aklamasi sekaligus menjadi pengingat, bahwa musyawarah dan mufakat harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab kepemimpinan.
Kepercayaan diberikan kepada seorang ketua merupakan amanat organisasi yang harus dijalankan melalui kerja kolektif, solidaritas kader, dan komitmen terhadap tujuan perjuangan.
Dengan identitas baru AMPERA, Komisariat GMNI Politeknik Negeri Manado diharapkan mampu meneguhkan kembali perannya sebagai ruang pembentukan kader nasionalis yang kritis, progresif, dan berpihak kepada rakyat.
Kepemimpinan baru ini pun diharapkan menjadi awal dari gerakan yang semakin solid, memperkuat akar organisasi di lingkungan kampus, serta menjadikan Marhaenisme bukan hanya sebagai ideologi yang dipelajari, tetapi juga sebagai nilai perjuangan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat dan sukses kepada Bung Anugerah Golly atas terpilihnya sebagai Ketua Komisariat GMNI Politeknik Negeri Manado.
Semoga Komisariat AMPERA menjadi rumah kaderisasi yang progresif, tombak perjuangan yang konsisten, dan ruang pengabdian untuk terus membumikan ajaran Marhaenisme. (red)
